BAB II
LANDASAN TEORI
A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Hernia adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, baik secara kongenital atau didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Lubang itu dapat timbul karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, akibat tekanan rongga perut yang meninggi. ( Arif Mansjoer, 2000 : 313 ).
Hernia berasal dari bahasa latin, herniae, artinya penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga tersebut. Dinding rongga yang lemah itu membentuk kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di perut dengan isi yang keluar berupa bagian usus. (Health new sun. 2009. http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybershopping|0|0|5|5131)
Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita.
(Seputar kedokteran dan inux. 2007. http://medlinux.blogspot.com/2007/09/hernia.html ).
Dari pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa hernia adalah ketidak normalan tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan pada dinding otot abdomen, dapat congenital maupun aquisita.
2. Anatomi fisiologi
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
a. Mulut
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
b. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan, di dalam lengkung faring terdapat tonsil yaitu kimpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit danmerupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak bersimpangan antara jalan napas dan jalan makanan., letaknya di belakang rongga mulut dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang.
c. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya kurang lebih 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar, lapisan selaput lendir, lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan otot memanjang longitudinal.
Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk kedalam abdomen menyambung dengan lambung.
d. Lambung
Merupakah bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak di bawah diagfragma didepan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri.
Fungsi lambung terdiri dari menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung.
e. Usus halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Usus halus terdiri dari :
1). Duodenum, disebut juga usus 12 jari panjangnya kurang lebih 25 cm berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas.
2). Yeyenum dan ileum mempunyai panjang kurang lebih 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yayanum dengan panjang 2-3 meter dan ileum dengan panjang 3-4 meter.
Dinding usus halus mempunyai 4 lapisan yang sama sebagai sisa saluran cerna:
a. Lapisan serosa, dibentuk oleh pritoneum.
b. Lapisan muskular, dengan lapisan eksternal tipis serat longitudinal dan lapisan internal tebal serat sirkular.
c. Lapisan submukosa, yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf
d. Lapisan membran mukosa.
Fungsi usus halus terdiri dari :
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.
Intususepsi atau invaginasi adalah bagian dari usus menyusup kebagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus. Pada gangguan ini 1sekmen dari usus halus dikerutkan oleh suatu gelombang peristaltik, serta masuk mengalami invaginasi kedalam sekmen distal dari usus tersebut. Sekali terjebak sekmen yang masuk tersebut oleh gerakan peristaltik didorong kedalam sekmen bagian distal, ikut menarik mesenterium dibelakangnya.
f. Usus besar
Panjang usus besar kurang lebih 1 ½ meter, lebarnya 5-6 cm. Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Fungsi usus besar yaitu menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat feses.
3. Klasifikasi
Secara garis besar pembagian hernia di bagi menjadi dua, yaitu :
a. Hernia eksterna
Hernia eksterna adalah yang menonjol keluar melalui dinding perut, pinggang, atau perineum seperti hernia inguinalis, femoralis, dan hernia umbilikus.
b. Hernia interna
Hernia interna adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam rongga perut seperti foramen winslow, resesus retrosekalis atau defek dapatan pada mesenterium umpamanya setelah anastomosis usus contohnya hernia diafragmatika.
4. Etiologi
Terdapat bermacam-macam faktor penyebab dari hernia, secara garis besar dibagi atas :
a. Kongenital
1). Hernia kongenital sempurna yaitu bayi sudah menderita hernia sejak lahir karena adanya defek pada tempat-tempat tertentu.
2). Hernia kongenital tidak sempurna yaitu bayi dilahirkan normal ( kelainan belum tampak ) tetapi ia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu ( predisposisi ) dan beberapa bulan ( 0 – 1 tahun ) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena di pengaruhi oleh kenaikan tekanan intra abdominal ( menejan, batuk, menangis ).
b. Di dapat
Adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi di sebabkan oleh faktor lain yang di alami manusia selama hidupnya, antara lain :
1). Tekanan intraabdominal yang tinggi, banyak di alami oleh pasien yang sering mengejan baik saat BAB maupun BAK . misalnya pada pasien BPH, batu uretra, konstipasi, penderita batuk kronis, partus, asites, dan lain-lain.
2). Kokonstitusi tubuh, orang kurus cenderung terkena hernia karena jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong.
3). Obesitas, salah satu penyebab peningkatan intraabdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat di cegah dengan pengontrolan berat badan.
4). Mengedan, dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal.
5). Mengangkat barang-barang berat.
5. Patofisiologi
Peninggian tekanan intraabdomen akan mendorong lemak perperitoneal ke dalam kanalis femoralis. Faktor penyebab terjadinya hernia yaitu kelahiran multipara, obesitas, dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Defek pada dinding abdomen dapat kongential atau didapat dan dibatasi oleh peritoneum.
Factor yang berperan terjadinya hernia inguinalis adalah peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut. Tekanan rongga perut yang tinggi secara kronis dapat berupa batuk kronis, hipertropi prostate, konstipasi, ascites, kehamilan multipara, obesitas. Pada hernia reponible, keluhan yang timbul hanya berupa benjolan di lipatan paha yang muncul padad waktu berdiri, batuk, bersi, mengedan, dan menghilang setelah brbaring.
Isi usus terjebak di dalam kantung menyebabkan inkreasi (ketidakmampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran darah ke daerah inkarerasi ).
Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena melemahkan jaringan atau ruang luas pada ugamen inguinal atau dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cidera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua dari faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia.
Pathway hernia inguinalis
Sumber : ( http//:perawatpskiatri.blogspot.com/ )
6. Manifestasi Klinis
Pada umumnya penderita hernia mengeluh adanya benjolan di lipat paha yang dapat sampai ke skrotum pada pria atau ke labia pada wanita. Diagnosis hernia inguinalis dapat ditegakkan berdasarkan atas besar benjolan yang dapat direposisi. Pada hernia inguinalis diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita membungkuk, batuk, mengedan atau mengangkat beban berat sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri.
7. Komplikasi
Akibat dari hernia dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
a. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan isi kantung hernia sehingga isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis irenponibilis. Pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan ireponibilis, adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irepinibilis daripada usus halus.
b. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat banyaknya usus yang masuk. Keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus di ikuti dengan gangguan vascular ( proses strangulasi ). Keadaan ini di sebut hernia inguinalis.
8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
a. Nekrosis/ gangrene pada hernia strangulata didapatkan leukositosis
b. Radiologis, untuk hernia interna
9. Penatalaksanaan
a. Terapi konservatif
Sambil menunggu untuk dilakukan terapi operatif. Terapi konservatif berupa alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sedangkan pada hernia inguinalis pemakaiannya tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan alat ini dapat melemahkan otot dinding perut.
1). Reposisi, tindakan memasukkan kembali isi hernia ke tempatnya semula secara hati-hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia reponibilis dengan menggunkan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. Tindakan ini terkadang dilakukan pada hernia irreponibilis apabila pasien takut dioperasi, yaitu dengan cara : bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 mg agar tertidur, pasien diposisikan Trendelenberg. Jika reposisi tidak berhasil jangan dipaksa, segera lakukan operasi.
2). Suntikan : Setelah reposisi berhasil suntikan zat yang bersifat sklerotik untuk memperkecil pintu hernia.
3). Sabuk Hernia : digunakan pada pasien yang menolak operasi dan pintu hernia relative kecil.
b. Terapi operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
1). Herniotomi, Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
2). Hernioplasti, Dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
a. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b. Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
c. Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d. Aktivitas atau istirahat
Tanda : mengangkat beban berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan matras untuk tidur, penurunan rentang gerak, tidak mampu melakukan aktivitas seperti biasa, atrofi otot, gangguan dalam berjalan.
e. Neurosensori
Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan tangan atau kaki, penurunan reflek tendon dalam, nyeri tekan atau nyeri abdomen.
f. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
g. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
h. Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti di tususk-tusuk, fleksi pada kaki, keterbatasan mobilisasi.
i. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
2. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
Periode pre operatif
a. Cemas berhubungan dengan tindakan operasi.
Periode post-operatif (Doenges, 1999).
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
b. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
e. Defisit volume cairan berhubungan dengan pembedahan.
f. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
g. Gangguan eliminasi fekal : konstipasi berhubungan dengan penurunan aktifitas fisik.
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
3. Perencanaan dan implementasi
Diagnosa periode post-operatif (Doenges, 1999).
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
- tanda-tanda vital normal
- pasien tampak tenang dan rileks
Intervensi :
1). pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
2). Anjurkan klien istirahat ditempat tidur
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3). Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4). Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
5). Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
Tujuan : tidak ada infeksi
Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan kotor.
- Tanda-tanda vital normal
Intervensi :
1). Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
Rasional : perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi.
3). Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
Rasional : untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
4). Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
Rasional : penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.
5). Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
Rasional : antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman
Kriteria hasil : - pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
- pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur
- kualitas dan kuantitas tidur normal
Itervensi :
1) Mandiri
a) Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
Rasional : Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.
b) Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus
Rasional : Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
c) Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
Rasional : Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
d) Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.
Rasional : Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.
e) Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk
f) Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
Rasional : Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.
g) Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih”.
Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.
2) Kolaborasi
a) Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).
Rasional : Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.
b) Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).
Rasional : Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.
c) Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).
Rasional : Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Itervensi
1) Rencanakan periode istirahat yang cukup.
Rasional : mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
2) Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
3) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
Rasional : mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
4) Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.
Rasional : menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
4. Penatalaksanaan
a. Diagnosa pertama
1). Memantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
2). Mengnjurkan klien istirahat ditempat tidur
3). Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
4). Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
5). Berkolaborasi untuk pemberian analgetik.
b. Diagnosa kedua
1). Memantau tanda-tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
3). Melakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
4). Berkolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit jika di temukan tanda infeksi.
5). Berkolaborasi untuk pemberian antibiotik.
c. Diagnosa ketiga
1) Memerikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
2) Menghindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus.
3) Mengevaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
4) Melengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien.
5) Memberikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
6) Menurunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
d. Diagnosa keempat
1) Merencanakan periode istirahat yang cukup.
2) Memberikan latihan aktivitas secara bertahap.
3) Membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
4) Mengkaji respons pasien setelah latihan dan aktivitas.
5. Evaluasi
a. Nyeri klien berkurang sampai hilang.
b. Resiko tinggi infeksi tidak terjadi.
c. Kebutuhan tidur klien terpenuhi.
d. Keterbatasan aktivitas teratasi.
Rabu, 07 Juli 2010
KTI HERNIA INGUINALIS
BAB II
LANDASAN TEORI
A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Hernia adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, baik secara kongenital atau didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Lubang itu dapat timbul karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, akibat tekanan rongga perut yang meninggi. ( Arif Mansjoer, 2000 : 313 ).
Hernia berasal dari bahasa latin, herniae, artinya penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga tersebut. Dinding rongga yang lemah itu membentuk kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di perut dengan isi yang keluar berupa bagian usus. (Health new sun. 2009. http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybershopping|0|0|5|5131)
Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita.
(Seputar kedokteran dan inux. 2007. http://medlinux.blogspot.com/2007/09/hernia.html ).
Dari pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa hernia adalah ketidak normalan tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan pada dinding otot abdomen, dapat congenital maupun aquisita.
2. Anatomi fisiologi
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
a. Mulut
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
b. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan, di dalam lengkung faring terdapat tonsil yaitu kimpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit danmerupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak bersimpangan antara jalan napas dan jalan makanan., letaknya di belakang rongga mulut dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang.
c. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya kurang lebih 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar, lapisan selaput lendir, lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan otot memanjang longitudinal.
Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk kedalam abdomen menyambung dengan lambung.
d. Lambung
Merupakah bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak di bawah diagfragma didepan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri.
Fungsi lambung terdiri dari menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung.
e. Usus halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Usus halus terdiri dari :
1). Duodenum, disebut juga usus 12 jari panjangnya kurang lebih 25 cm berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas.
2). Yeyenum dan ileum mempunyai panjang kurang lebih 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yayanum dengan panjang 2-3 meter dan ileum dengan panjang 3-4 meter.
Dinding usus halus mempunyai 4 lapisan yang sama sebagai sisa saluran cerna:
a. Lapisan serosa, dibentuk oleh pritoneum.
b. Lapisan muskular, dengan lapisan eksternal tipis serat longitudinal dan lapisan internal tebal serat sirkular.
c. Lapisan submukosa, yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf
d. Lapisan membran mukosa.
Fungsi usus halus terdiri dari :
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.
Intususepsi atau invaginasi adalah bagian dari usus menyusup kebagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus. Pada gangguan ini 1sekmen dari usus halus dikerutkan oleh suatu gelombang peristaltik, serta masuk mengalami invaginasi kedalam sekmen distal dari usus tersebut. Sekali terjebak sekmen yang masuk tersebut oleh gerakan peristaltik didorong kedalam sekmen bagian distal, ikut menarik mesenterium dibelakangnya.
f. Usus besar
Panjang usus besar kurang lebih 1 ½ meter, lebarnya 5-6 cm. Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Fungsi usus besar yaitu menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat feses.
3. Klasifikasi
Secara garis besar pembagian hernia di bagi menjadi dua, yaitu :
a. Hernia eksterna
Hernia eksterna adalah yang menonjol keluar melalui dinding perut, pinggang, atau perineum seperti hernia inguinalis, femoralis, dan hernia umbilikus.
b. Hernia interna
Hernia interna adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam rongga perut seperti foramen winslow, resesus retrosekalis atau defek dapatan pada mesenterium umpamanya setelah anastomosis usus contohnya hernia diafragmatika.
4. Etiologi
Terdapat bermacam-macam faktor penyebab dari hernia, secara garis besar dibagi atas :
a. Kongenital
1). Hernia kongenital sempurna yaitu bayi sudah menderita hernia sejak lahir karena adanya defek pada tempat-tempat tertentu.
2). Hernia kongenital tidak sempurna yaitu bayi dilahirkan normal ( kelainan belum tampak ) tetapi ia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu ( predisposisi ) dan beberapa bulan ( 0 – 1 tahun ) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena di pengaruhi oleh kenaikan tekanan intra abdominal ( menejan, batuk, menangis ).
b. Di dapat
Adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi di sebabkan oleh faktor lain yang di alami manusia selama hidupnya, antara lain :
1). Tekanan intraabdominal yang tinggi, banyak di alami oleh pasien yang sering mengejan baik saat BAB maupun BAK . misalnya pada pasien BPH, batu uretra, konstipasi, penderita batuk kronis, partus, asites, dan lain-lain.
2). Kokonstitusi tubuh, orang kurus cenderung terkena hernia karena jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong.
3). Obesitas, salah satu penyebab peningkatan intraabdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat di cegah dengan pengontrolan berat badan.
4). Mengedan, dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal.
5). Mengangkat barang-barang berat.
5. Patofisiologi
Peninggian tekanan intraabdomen akan mendorong lemak perperitoneal ke dalam kanalis femoralis. Faktor penyebab terjadinya hernia yaitu kelahiran multipara, obesitas, dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Defek pada dinding abdomen dapat kongential atau didapat dan dibatasi oleh peritoneum.
Factor yang berperan terjadinya hernia inguinalis adalah peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut. Tekanan rongga perut yang tinggi secara kronis dapat berupa batuk kronis, hipertropi prostate, konstipasi, ascites, kehamilan multipara, obesitas. Pada hernia reponible, keluhan yang timbul hanya berupa benjolan di lipatan paha yang muncul padad waktu berdiri, batuk, bersi, mengedan, dan menghilang setelah brbaring.
Isi usus terjebak di dalam kantung menyebabkan inkreasi (ketidakmampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran darah ke daerah inkarerasi ).
Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena melemahkan jaringan atau ruang luas pada ugamen inguinal atau dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cidera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua dari faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia.
Pathway hernia inguinalis
Sumber : ( http//:perawatpskiatri.blogspot.com/ )
6. Manifestasi Klinis
Pada umumnya penderita hernia mengeluh adanya benjolan di lipat paha yang dapat sampai ke skrotum pada pria atau ke labia pada wanita. Diagnosis hernia inguinalis dapat ditegakkan berdasarkan atas besar benjolan yang dapat direposisi. Pada hernia inguinalis diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita membungkuk, batuk, mengedan atau mengangkat beban berat sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri.
7. Komplikasi
Akibat dari hernia dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
a. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan isi kantung hernia sehingga isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis irenponibilis. Pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan ireponibilis, adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irepinibilis daripada usus halus.
b. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat banyaknya usus yang masuk. Keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus di ikuti dengan gangguan vascular ( proses strangulasi ). Keadaan ini di sebut hernia inguinalis.
8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
a. Nekrosis/ gangrene pada hernia strangulata didapatkan leukositosis
b. Radiologis, untuk hernia interna
9. Penatalaksanaan
a. Terapi konservatif
Sambil menunggu untuk dilakukan terapi operatif. Terapi konservatif berupa alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sedangkan pada hernia inguinalis pemakaiannya tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan alat ini dapat melemahkan otot dinding perut.
1). Reposisi, tindakan memasukkan kembali isi hernia ke tempatnya semula secara hati-hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia reponibilis dengan menggunkan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. Tindakan ini terkadang dilakukan pada hernia irreponibilis apabila pasien takut dioperasi, yaitu dengan cara : bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 mg agar tertidur, pasien diposisikan Trendelenberg. Jika reposisi tidak berhasil jangan dipaksa, segera lakukan operasi.
2). Suntikan : Setelah reposisi berhasil suntikan zat yang bersifat sklerotik untuk memperkecil pintu hernia.
3). Sabuk Hernia : digunakan pada pasien yang menolak operasi dan pintu hernia relative kecil.
b. Terapi operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
1). Herniotomi, Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
2). Hernioplasti, Dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
a. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b. Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
c. Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d. Aktivitas atau istirahat
Tanda : mengangkat beban berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan matras untuk tidur, penurunan rentang gerak, tidak mampu melakukan aktivitas seperti biasa, atrofi otot, gangguan dalam berjalan.
e. Neurosensori
Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan tangan atau kaki, penurunan reflek tendon dalam, nyeri tekan atau nyeri abdomen.
f. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
g. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
h. Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti di tususk-tusuk, fleksi pada kaki, keterbatasan mobilisasi.
i. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
2. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
Periode pre operatif
a. Cemas berhubungan dengan tindakan operasi.
Periode post-operatif (Doenges, 1999).
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
b. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
e. Defisit volume cairan berhubungan dengan pembedahan.
f. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
g. Gangguan eliminasi fekal : konstipasi berhubungan dengan penurunan aktifitas fisik.
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
3. Perencanaan dan implementasi
Diagnosa periode post-operatif (Doenges, 1999).
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
- tanda-tanda vital normal
- pasien tampak tenang dan rileks
Intervensi :
1). pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
2). Anjurkan klien istirahat ditempat tidur
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3). Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4). Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
5). Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
Tujuan : tidak ada infeksi
Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan kotor.
- Tanda-tanda vital normal
Intervensi :
1). Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
Rasional : perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi.
3). Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
Rasional : untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
4). Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
Rasional : penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.
5). Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
Rasional : antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman
Kriteria hasil : - pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
- pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur
- kualitas dan kuantitas tidur normal
Itervensi :
1) Mandiri
a) Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
Rasional : Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.
b) Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus
Rasional : Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
c) Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
Rasional : Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
d) Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.
Rasional : Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.
e) Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk
f) Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
Rasional : Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.
g) Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih”.
Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.
2) Kolaborasi
a) Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).
Rasional : Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.
b) Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).
Rasional : Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.
c) Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).
Rasional : Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Itervensi
1) Rencanakan periode istirahat yang cukup.
Rasional : mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
2) Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
3) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
Rasional : mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
4) Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.
Rasional : menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
4. Penatalaksanaan
a. Diagnosa pertama
1). Memantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
2). Mengnjurkan klien istirahat ditempat tidur
3). Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
4). Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
5). Berkolaborasi untuk pemberian analgetik.
b. Diagnosa kedua
1). Memantau tanda-tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
3). Melakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
4). Berkolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit jika di temukan tanda infeksi.
5). Berkolaborasi untuk pemberian antibiotik.
c. Diagnosa ketiga
1) Memerikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
2) Menghindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus.
3) Mengevaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
4) Melengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien.
5) Memberikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
6) Menurunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
d. Diagnosa keempat
1) Merencanakan periode istirahat yang cukup.
2) Memberikan latihan aktivitas secara bertahap.
3) Membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
4) Mengkaji respons pasien setelah latihan dan aktivitas.
5. Evaluasi
a. Nyeri klien berkurang sampai hilang.
b. Resiko tinggi infeksi tidak terjadi.
c. Kebutuhan tidur klien terpenuhi.
d. Keterbatasan aktivitas teratasi.
LANDASAN TEORI
A. KONSEP DASAR
1. Definisi
Hernia adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, baik secara kongenital atau didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Lubang itu dapat timbul karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, akibat tekanan rongga perut yang meninggi. ( Arif Mansjoer, 2000 : 313 ).
Hernia berasal dari bahasa latin, herniae, artinya penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga tersebut. Dinding rongga yang lemah itu membentuk kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di perut dengan isi yang keluar berupa bagian usus. (Health new sun. 2009. http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybershopping|0|0|5|5131)
Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita.
(Seputar kedokteran dan inux. 2007. http://medlinux.blogspot.com/2007/09/hernia.html ).
Dari pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa hernia adalah ketidak normalan tubuh berupa tonjolan yang disebabkan karena kelemahan pada dinding otot abdomen, dapat congenital maupun aquisita.
2. Anatomi fisiologi
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
a. Mulut
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
b. Faring
Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan, di dalam lengkung faring terdapat tonsil yaitu kimpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit danmerupakan pertahanan terhadap infeksi. Disini terletak bersimpangan antara jalan napas dan jalan makanan., letaknya di belakang rongga mulut dan rongga hidung, di depan ruas tulang belakang.
c. Esofagus
Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya kurang lebih 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di bawah lambung. Lapisan dinding dari dalam keluar, lapisan selaput lendir, lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler dan lapisan otot memanjang longitudinal.
Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung setelah melalui toraks menembus diafragma masuk kedalam abdomen menyambung dengan lambung.
d. Lambung
Merupakah bagian dari saluran yang dapat mengembang paling banyak terutama di daerah epigaster, lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak di bawah diagfragma didepan pankreas dan limpa, menempel di sebelah kiri fundus uteri.
Fungsi lambung terdiri dari menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltik lambung dan getah lambung.
e. Usus halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Usus halus terdiri dari :
1). Duodenum, disebut juga usus 12 jari panjangnya kurang lebih 25 cm berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas.
2). Yeyenum dan ileum mempunyai panjang kurang lebih 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yayanum dengan panjang 2-3 meter dan ileum dengan panjang 3-4 meter.
Dinding usus halus mempunyai 4 lapisan yang sama sebagai sisa saluran cerna:
a. Lapisan serosa, dibentuk oleh pritoneum.
b. Lapisan muskular, dengan lapisan eksternal tipis serat longitudinal dan lapisan internal tebal serat sirkular.
c. Lapisan submukosa, yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf
d. Lapisan membran mukosa.
Fungsi usus halus terdiri dari :
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.
Intususepsi atau invaginasi adalah bagian dari usus menyusup kebagian lain yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus. Pada gangguan ini 1sekmen dari usus halus dikerutkan oleh suatu gelombang peristaltik, serta masuk mengalami invaginasi kedalam sekmen distal dari usus tersebut. Sekali terjebak sekmen yang masuk tersebut oleh gerakan peristaltik didorong kedalam sekmen bagian distal, ikut menarik mesenterium dibelakangnya.
f. Usus besar
Panjang usus besar kurang lebih 1 ½ meter, lebarnya 5-6 cm. Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Fungsi usus besar yaitu menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat feses.
3. Klasifikasi
Secara garis besar pembagian hernia di bagi menjadi dua, yaitu :
a. Hernia eksterna
Hernia eksterna adalah yang menonjol keluar melalui dinding perut, pinggang, atau perineum seperti hernia inguinalis, femoralis, dan hernia umbilikus.
b. Hernia interna
Hernia interna adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam rongga perut seperti foramen winslow, resesus retrosekalis atau defek dapatan pada mesenterium umpamanya setelah anastomosis usus contohnya hernia diafragmatika.
4. Etiologi
Terdapat bermacam-macam faktor penyebab dari hernia, secara garis besar dibagi atas :
a. Kongenital
1). Hernia kongenital sempurna yaitu bayi sudah menderita hernia sejak lahir karena adanya defek pada tempat-tempat tertentu.
2). Hernia kongenital tidak sempurna yaitu bayi dilahirkan normal ( kelainan belum tampak ) tetapi ia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu ( predisposisi ) dan beberapa bulan ( 0 – 1 tahun ) setelah lahir akan terjadi hernia melalui defek tersebut karena di pengaruhi oleh kenaikan tekanan intra abdominal ( menejan, batuk, menangis ).
b. Di dapat
Adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi di sebabkan oleh faktor lain yang di alami manusia selama hidupnya, antara lain :
1). Tekanan intraabdominal yang tinggi, banyak di alami oleh pasien yang sering mengejan baik saat BAB maupun BAK . misalnya pada pasien BPH, batu uretra, konstipasi, penderita batuk kronis, partus, asites, dan lain-lain.
2). Kokonstitusi tubuh, orang kurus cenderung terkena hernia karena jaringan ikatnya yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia karena banyaknya jaringan lemak pada tubuhnya yang menambah beban kerja jaringan ikat penyokong.
3). Obesitas, salah satu penyebab peningkatan intraabdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat di cegah dengan pengontrolan berat badan.
4). Mengedan, dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal.
5). Mengangkat barang-barang berat.
5. Patofisiologi
Peninggian tekanan intraabdomen akan mendorong lemak perperitoneal ke dalam kanalis femoralis. Faktor penyebab terjadinya hernia yaitu kelahiran multipara, obesitas, dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Defek pada dinding abdomen dapat kongential atau didapat dan dibatasi oleh peritoneum.
Factor yang berperan terjadinya hernia inguinalis adalah peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut. Tekanan rongga perut yang tinggi secara kronis dapat berupa batuk kronis, hipertropi prostate, konstipasi, ascites, kehamilan multipara, obesitas. Pada hernia reponible, keluhan yang timbul hanya berupa benjolan di lipatan paha yang muncul padad waktu berdiri, batuk, bersi, mengedan, dan menghilang setelah brbaring.
Isi usus terjebak di dalam kantung menyebabkan inkreasi (ketidakmampuan untuk mengurangi isi) dan kemungkinan strangulasi (terhambatnya aliran darah ke daerah inkarerasi ).
Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena melemahkan jaringan atau ruang luas pada ugamen inguinal atau dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cidera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua dari faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia.
Pathway hernia inguinalis
Sumber : ( http//:perawatpskiatri.blogspot.com/ )
6. Manifestasi Klinis
Pada umumnya penderita hernia mengeluh adanya benjolan di lipat paha yang dapat sampai ke skrotum pada pria atau ke labia pada wanita. Diagnosis hernia inguinalis dapat ditegakkan berdasarkan atas besar benjolan yang dapat direposisi. Pada hernia inguinalis diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar jika penderita membungkuk, batuk, mengedan atau mengangkat beban berat sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri.
7. Komplikasi
Akibat dari hernia dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
a. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan isi kantung hernia sehingga isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis irenponibilis. Pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus. Isi hernia yang tersering menyebabkan keadaan ireponibilis, adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia dan isinya dapat menjadi lebih besar karena infiltrasi lemak. Usus besar lebih sering menyebabkan irepinibilis daripada usus halus.
b. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia akibat banyaknya usus yang masuk. Keadaan ini menyebabkan gangguan aliran isi usus di ikuti dengan gangguan vascular ( proses strangulasi ). Keadaan ini di sebut hernia inguinalis.
8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
a. Nekrosis/ gangrene pada hernia strangulata didapatkan leukositosis
b. Radiologis, untuk hernia interna
9. Penatalaksanaan
a. Terapi konservatif
Sambil menunggu untuk dilakukan terapi operatif. Terapi konservatif berupa alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sedangkan pada hernia inguinalis pemakaiannya tidak dianjurkan karena selain tidak dapat menyembuhkan alat ini dapat melemahkan otot dinding perut.
1). Reposisi, tindakan memasukkan kembali isi hernia ke tempatnya semula secara hati-hati dengan tindakan yang lembut tetapi pasti. Tindakan ini hanya dapat dilakukan pada hernia reponibilis dengan menggunkan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher hernia sedangkan tangan yang lain memasukkan isi hernia melalui leher hernia tadi. Tindakan ini terkadang dilakukan pada hernia irreponibilis apabila pasien takut dioperasi, yaitu dengan cara : bagian hernia dikompres dingin, penderita diberi penenang valium 10 mg agar tertidur, pasien diposisikan Trendelenberg. Jika reposisi tidak berhasil jangan dipaksa, segera lakukan operasi.
2). Suntikan : Setelah reposisi berhasil suntikan zat yang bersifat sklerotik untuk memperkecil pintu hernia.
3). Sabuk Hernia : digunakan pada pasien yang menolak operasi dan pintu hernia relative kecil.
b. Terapi operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
1). Herniotomi, Dilakukan pembebasan kantong hernia sampai kelehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit, ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
2). Hernioplasti, Dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian pasien Post operatif (Doenges, 1999) adalah meliputi :
a. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
b. Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
c. Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi).
d. Aktivitas atau istirahat
Tanda : mengangkat beban berat, duduk, mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan matras untuk tidur, penurunan rentang gerak, tidak mampu melakukan aktivitas seperti biasa, atrofi otot, gangguan dalam berjalan.
e. Neurosensori
Gejala : kesemutan, kekakuan, kelemahan tangan atau kaki, penurunan reflek tendon dalam, nyeri tekan atau nyeri abdomen.
f. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
g. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
h. Kenyamanan
Gejala : nyeri seperti di tususk-tusuk, fleksi pada kaki, keterbatasan mobilisasi.
i. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).
2. Diagnosa Keperawatan yang sering muncul
Periode pre operatif
a. Cemas berhubungan dengan tindakan operasi.
Periode post-operatif (Doenges, 1999).
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
b. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
e. Defisit volume cairan berhubungan dengan pembedahan.
f. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
g. Gangguan eliminasi fekal : konstipasi berhubungan dengan penurunan aktifitas fisik.
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.
3. Perencanaan dan implementasi
Diagnosa periode post-operatif (Doenges, 1999).
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil : - klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
- tanda-tanda vital normal
- pasien tampak tenang dan rileks
Intervensi :
1). pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
2). Anjurkan klien istirahat ditempat tidur
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3). Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4). Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
5). Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan luka insisi bedah/operasi.
Tujuan : tidak ada infeksi
Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan kotor.
- Tanda-tanda vital normal
Intervensi :
1). Pantau tanda-tanda vital.
Rasional : Jika ada peningkatan tanda-tanda vital besar kemungkinan adanya gejala infeksi karena tubuh berusaha intuk melawan mikroorganisme asing yang masuk maka terjadi peningkatan tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
Rasional : perawatan luka dengan teknik aseptik mencegah risiko infeksi.
3). Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
Rasional : untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
4). Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
Rasional : penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal membuktikan adanya tanda-tanda infeksi.
5). Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
Rasional : antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.
c. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri post operasi.
Tujuan : pasien dapat tidur dengan nyaman
Kriteria hasil : - pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
- pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur
- kualitas dan kuantitas tidur normal
Itervensi :
1) Mandiri
a) Berikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
Rasional : Karena aktivitas fisik dan mental yang lama mengakibatkan kelelahan yang dapat mengakibatkan kebingungan, aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan yang meningkatkan waktu tidur.
b) Hindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus
Rasional : Risiko gangguan sensori, meningkatkan agitasi dan menghambat waktu istirahat.
c) Evaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
Rasional : Peningkatan kebingungan, disorientasi dan tingkah laku yang tidak kooperatif (sindrom sundowner) dapat melanggar pola tidur yang mencapai tidur pulas.
d) Lengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur.
Rasional : Pengatan bahwa saatnya tidur dan mempertahankan kestabilan lingkungan. Catatan : Penundaan waktu tidur mungkin diindikasikan untuk memungkin pasien membuang kelebihan energi dan memfasilitas tidur.
e) Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dengan perasan mengantuk
f) Turunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
Rasional : Menurunkan kebutuhan akan bangun untuk pergi kekamar mandi/berkemih selama malam hari.
g) Putarkan musik yang lembut atau ”suara yang jernih”.
Rasional : Menurunkan stimulasi sensori dengan menghambat suara-suara lain dari lingkungan sekitar yang akan menghambat tidur nyeyak.
2) Kolaborasi
a) Berikan obat sesuai indikasi : Antidepresi, seperti amitriptilin (Elavil); deksepin (Senequan) dan trasolon (Desyrel).
Rasional : Mungkin efektif dalam menangani pseudodimensia atau depresi, meningkatkan kemampuan untuk tidur, tetapi anti kolinergik dapat mencetuskan dan memperburuk kognitif dalam efek samping tertentu (seperti hipotensi ortostatik) yang membatasi manfaat yang maksimal.
b) Koral hidrat; oksazepam (Serax); triazolam (Halcion).
Rasional : Gunakan dengan hemat, hipnotik dosis rendah mungkin efektif dalam mengatasi insomia atau sindrom sundowner.
c) Hindari penggunaan difenhidramin (Benadry1).
Rasional : Bila digunakan untuk tidur, obat ini sekarang dikontraindikasikan karena obat ini mempengaruhi produksi asetilkon yang sudah dihambat dalam otak pasien dengan DAT ini.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Itervensi
1) Rencanakan periode istirahat yang cukup.
Rasional : mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
2) Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
Rasional : tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
3) Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
Rasional : mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
4) Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.
Rasional : menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.
4. Penatalaksanaan
a. Diagnosa pertama
1). Memantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
2). Mengnjurkan klien istirahat ditempat tidur
3). Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
4). Mengajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
5). Berkolaborasi untuk pemberian analgetik.
b. Diagnosa kedua
1). Memantau tanda-tanda vital.
2). Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
3). Melakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
4). Berkolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit jika di temukan tanda infeksi.
5). Berkolaborasi untuk pemberian antibiotik.
c. Diagnosa ketiga
1) Memerikan kesempatan untuk beristirahat / tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental / fisik pada sore hari.
2) Menghindari penggunaan ”Pengikatan” secara terus menerus.
3) Mengevaluasi tingkat stres / orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
4) Melengkapi jadwal tidur dan ritoal secara teratur. Katakan pada pasien.
5) Memberikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung.
6) Menurunkan jumlah minum pada sore hari. Lakukan berkemih sebelum tidur.
d. Diagnosa keempat
1) Merencanakan periode istirahat yang cukup.
2) Memberikan latihan aktivitas secara bertahap.
3) Membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
4) Mengkaji respons pasien setelah latihan dan aktivitas.
5. Evaluasi
a. Nyeri klien berkurang sampai hilang.
b. Resiko tinggi infeksi tidak terjadi.
c. Kebutuhan tidur klien terpenuhi.
d. Keterbatasan aktivitas teratasi.
KTI DM
BAB I
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan terjadi kontraksi. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. Striktura uretra adalah penyempitan lumen uretra disertai menurunnya (hilangnya) elastisitas uretra. Hal ini karena uretra sering terjadi di pars bulbaris sebagian besar striktura uretra terjadi karena trauma di daerah perineal, yang disebut straddle injury.
Striktur uretra adalah istilah medis ketika dinding saluran kencing telah rusak karena terkena infeksi PMS. Pertama yang terjadi adalah adanya luka pada dinding saluran kencing, selanjutnya dinding yang terluka tersebut dapat menempel dengan dinding di depannya atau menimbulkan jaringan parut pada saluran itu. Dapat dibayangkan, saluran kencing menjadi lebih sempit bahkan menutup sama sekali sehingga sangat mengganggu kencing. Jika ini terjadi, akan terasa sangat sakit dan cukup sulit disembuhkan
Dari uraian di atas, sekarang sudah cukup jelas, baik pria atau wanita mulai saat ini harus bisa menjaga kesehatan reproduksi kita sendiri. Jangan melakukan perilaku-perilaku seksual yang nantinya merugikan diri kita sendiri. Alangkah baiknya jika kita bisa mengenal organ reproduksi kita sendiri, baik bagian luar maupun bagian dalam, dengan lebih baik. Jangan merasa jijik atau ragu lagi buat memeriksa alat kelamin kita sendiri. Ini sangat penting karena jika ada kelainan, kita bisa segera mengenalinya dan mencari pengobatan yang tepat sebelum terjadi komplikasi-komplikasi yang merugikan.
Derajat penyempitan uretra:
a. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
b. Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
c. Berat : oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.
Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
B. PENYEBAB
1. Kongenital
Struktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomaly salurah kemih yang lain
Hal ini jarang terjadi.
Misalnya:
a) Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.
b) Divertikula kongenital penyebab proses striktura uretra.
2. Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktur (fraktur pelvis, trauma uretra anterior, tindakan sistoskopi, prostatektomi, katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury, perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi seperti kita ketahui, antara prostat dan ospubis dihubungkan oleh lig, puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan diameter lumen uretra tidak proporsional.
3. Infeksi,
Seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO).
Kalau kita menemukan pasien dengan uretritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan jaringan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan penggantinya adalah jaringan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur.
4. Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra.
5. Didapat.
• Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)
• Cedera akibat peregangan
• Cedera akibat kecelakaan
• Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
• Infeksi
• Spasmus otot
• Tekanan dari luar misalnya pertumbuhan tumor
C. PATOFISIOLOGI
Kongenital Didapat
Infeksi
Anomali saluran kemih yang lain Spasmus otot
Tekanan dari luar:tumor Cedera uretral
Cedera peregangan
Uretritis Gonorhea
Jaringan parut penyempitan lumen uretra
Kekuatan pancaran & jumlah urin berkurang Total tersumbat
Obstruksi saluran kemih yg bermuara ke Vesika Urinaria
Peningkatan tekanan vesika urinaria refluk urin
hidroureter
Penebalan dinding vesika urinaria
hidronefrosis
penurunan kontraksi otot vesika urinaria pyelonefritis
Gagal ginjal akut Kesukitan berkemih retensi urin
Gagal ginjal kronis
D. TANDA DAN GEJALA
Tanda
1. Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
2. Gejala infeksi
3. Retensi urinarius
4. Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis
Gejala :
1. Pancaran air kencing lemah
2. Pancaran air kencing bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian.
3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tuiuh kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya.
4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis muskulus spinter uretra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh), namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal.
5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang, penampilan keruh, Ph: 7 atau lebih besar, bakteria.
b. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus, Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
c. BUN (blood urea nitrogen) / kreatin : meningkat
d. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
e. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
f. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
F. PENATALAKSANAAN
1. fisik
Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis.
Normalnya pada orang dewasa, vesika yang kosong terletak di belakang simfisis pubis. Berbeda dengan letak vesica pada bayi dan anak. Pada bayi dan anak, vesica terletak lebih ke atas, sehingga pada bayi dan anak fungsi vesika boleh dilakukan pada saat vesika tidak penuh. Kalau pada orang dewasa, vesika yang tidak penuh merupakan kontraindikasi fungsi vesika.
2. Radiologi:
Tidak jelas, karena memang letaknya di uretra, kecuali bila ada fistula uretrocutaneus.
Metal kecil
Uretrografi retrograde
Memasukkan kateter ke dalam uretra, kemudian dimasukkan obat ke arah uretra prosimal. Dengan demikin bisa diketahui daerah mana yang menyempit.
Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang, serta total tidaknya striktura).Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra), sehingga panjang dan juga ketebalan striktura dapat diketahui. Dikatakan striktura total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur.
Keuntungan Uretrosistografi bipolar:
- Mengetahui persis panjan striktur
- Mengetahui total penyempitan.
- Mengetahui persis lokasinva.
3. Intravenously pylogram (IVP)
IVP dilakukan untuk:
- Melihat anatomi saluran kencing bagian atas .
- Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy).
- Melihat tulang pelvis (post trauma), dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak.
4. Laboratorium
Pemeriksaan darah untuk menilai faal ginjal, dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin, termasuk Hb.
5. Terapi
1.Konservatif: bouginasi (logam, plastik)
Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Hanya dokter spesialis yang boleh melakukan. Ini karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretranya. Bentuk uretra itu seperti huruf S. Nah kalau bentuk ini tidak dipahami dengan baik, terus dimasukkan bahan yang keras ke uretra, dapat terjadi cedera di bagian bagian belokan. Terutama sekali di daerah pars bulbaris, sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan, bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter, fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial.
2. Operatif
a) Tertutup (uretrotomi interna), dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sachse (dengan lensa). Prosedur sache ini yang paling sering digunakan.
Indikasi Sache adalah:
Struktur lumen masih berlubang (incomplete)
Striktur pendek. Panjangnya < 0,5 cm. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial), akibat tingkat residifnya tinggi.
b) Terbuka, ada 2 cara, yaitu:
Jika pendek (0,5-1 cm) : resesksi anatomose
Jika panjang, maka tidak di-anastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. Untuk striktura yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen, yaitu:
1. Tahap I, yaitu hipospodia artifisial, dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis)
2. Tahap II, yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium, mukosa buccal, atau dari belakang daun telinga.
6. Filiform bougies
untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter.
7. Medika mentosa
a. Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
b. Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
8. Pembedahan
• Sistostomi suprapubis
• Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.
• Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.
• Uretrotomi eksterna: tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
9. Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
3. Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
4. Nyeri / kenyamanan: Nyeri suprapubik
5. Keamanan : demam
6. Penyuluhan / pembelajaran
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan : nyeri berkurang / hilang
Kriteria hasil:
a. Melaporkan penurunan nyeri
b. Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks
C. INTERVENSI
• Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
• Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang,
peningkatan TD)
• Berikan pilihan tindakan rasa nyaman.Bantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman.Ajarkan tehnik relaksasi dan bantu bimbingan imajinas
• Dokumentasikan dan observasi efek dari obat yang diinginkan dan efek
Sampingnya
• Secara intermiten irigasi kateter uretra/suprapubis gunakan sesuai advis, salin normal steril dan spuit steril. Masukkan cairan perlahan-lahan, jangan terlalu kuat. Lanjutkan irigasi sampai urin jernih tidak ada bekuan.
• Jika tindakan gagal untuk mengurangi nyeri, konsultasikan dengan dokter untuk penggantian dosis atau interval obat.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan terjadi kontraksi. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. Striktura uretra adalah penyempitan lumen uretra disertai menurunnya (hilangnya) elastisitas uretra. Hal ini karena uretra sering terjadi di pars bulbaris sebagian besar striktura uretra terjadi karena trauma di daerah perineal, yang disebut straddle injury.
Striktur uretra adalah istilah medis ketika dinding saluran kencing telah rusak karena terkena infeksi PMS. Pertama yang terjadi adalah adanya luka pada dinding saluran kencing, selanjutnya dinding yang terluka tersebut dapat menempel dengan dinding di depannya atau menimbulkan jaringan parut pada saluran itu. Dapat dibayangkan, saluran kencing menjadi lebih sempit bahkan menutup sama sekali sehingga sangat mengganggu kencing. Jika ini terjadi, akan terasa sangat sakit dan cukup sulit disembuhkan
Dari uraian di atas, sekarang sudah cukup jelas, baik pria atau wanita mulai saat ini harus bisa menjaga kesehatan reproduksi kita sendiri. Jangan melakukan perilaku-perilaku seksual yang nantinya merugikan diri kita sendiri. Alangkah baiknya jika kita bisa mengenal organ reproduksi kita sendiri, baik bagian luar maupun bagian dalam, dengan lebih baik. Jangan merasa jijik atau ragu lagi buat memeriksa alat kelamin kita sendiri. Ini sangat penting karena jika ada kelainan, kita bisa segera mengenalinya dan mencari pengobatan yang tepat sebelum terjadi komplikasi-komplikasi yang merugikan.
Derajat penyempitan uretra:
a. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
b. Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
c. Berat : oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.
Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
B. PENYEBAB
1. Kongenital
Struktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomaly salurah kemih yang lain
Hal ini jarang terjadi.
Misalnya:
a) Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.
b) Divertikula kongenital penyebab proses striktura uretra.
2. Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktur (fraktur pelvis, trauma uretra anterior, tindakan sistoskopi, prostatektomi, katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury, perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi seperti kita ketahui, antara prostat dan ospubis dihubungkan oleh lig, puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan diameter lumen uretra tidak proporsional.
3. Infeksi,
Seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO).
Kalau kita menemukan pasien dengan uretritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan jaringan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan penggantinya adalah jaringan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur.
4. Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra.
5. Didapat.
• Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)
• Cedera akibat peregangan
• Cedera akibat kecelakaan
• Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
• Infeksi
• Spasmus otot
• Tekanan dari luar misalnya pertumbuhan tumor
C. PATOFISIOLOGI
Kongenital Didapat
Infeksi
Anomali saluran kemih yang lain Spasmus otot
Tekanan dari luar:tumor Cedera uretral
Cedera peregangan
Uretritis Gonorhea
Jaringan parut penyempitan lumen uretra
Kekuatan pancaran & jumlah urin berkurang Total tersumbat
Obstruksi saluran kemih yg bermuara ke Vesika Urinaria
Peningkatan tekanan vesika urinaria refluk urin
hidroureter
Penebalan dinding vesika urinaria
hidronefrosis
penurunan kontraksi otot vesika urinaria pyelonefritis
Gagal ginjal akut Kesukitan berkemih retensi urin
Gagal ginjal kronis
D. TANDA DAN GEJALA
Tanda
1. Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
2. Gejala infeksi
3. Retensi urinarius
4. Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis
Gejala :
1. Pancaran air kencing lemah
2. Pancaran air kencing bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian.
3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tuiuh kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya.
4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis muskulus spinter uretra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh), namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal.
5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang, penampilan keruh, Ph: 7 atau lebih besar, bakteria.
b. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus, Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
c. BUN (blood urea nitrogen) / kreatin : meningkat
d. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
e. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
f. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
F. PENATALAKSANAAN
1. fisik
Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis.
Normalnya pada orang dewasa, vesika yang kosong terletak di belakang simfisis pubis. Berbeda dengan letak vesica pada bayi dan anak. Pada bayi dan anak, vesica terletak lebih ke atas, sehingga pada bayi dan anak fungsi vesika boleh dilakukan pada saat vesika tidak penuh. Kalau pada orang dewasa, vesika yang tidak penuh merupakan kontraindikasi fungsi vesika.
2. Radiologi:
Tidak jelas, karena memang letaknya di uretra, kecuali bila ada fistula uretrocutaneus.
Metal kecil
Uretrografi retrograde
Memasukkan kateter ke dalam uretra, kemudian dimasukkan obat ke arah uretra prosimal. Dengan demikin bisa diketahui daerah mana yang menyempit.
Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang, serta total tidaknya striktura).Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra), sehingga panjang dan juga ketebalan striktura dapat diketahui. Dikatakan striktura total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur.
Keuntungan Uretrosistografi bipolar:
- Mengetahui persis panjan striktur
- Mengetahui total penyempitan.
- Mengetahui persis lokasinva.
3. Intravenously pylogram (IVP)
IVP dilakukan untuk:
- Melihat anatomi saluran kencing bagian atas .
- Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy).
- Melihat tulang pelvis (post trauma), dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak.
4. Laboratorium
Pemeriksaan darah untuk menilai faal ginjal, dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin, termasuk Hb.
5. Terapi
1.Konservatif: bouginasi (logam, plastik)
Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Hanya dokter spesialis yang boleh melakukan. Ini karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretranya. Bentuk uretra itu seperti huruf S. Nah kalau bentuk ini tidak dipahami dengan baik, terus dimasukkan bahan yang keras ke uretra, dapat terjadi cedera di bagian bagian belokan. Terutama sekali di daerah pars bulbaris, sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan, bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter, fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial.
2. Operatif
a) Tertutup (uretrotomi interna), dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sachse (dengan lensa). Prosedur sache ini yang paling sering digunakan.
Indikasi Sache adalah:
Struktur lumen masih berlubang (incomplete)
Striktur pendek. Panjangnya < 0,5 cm. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial), akibat tingkat residifnya tinggi.
b) Terbuka, ada 2 cara, yaitu:
Jika pendek (0,5-1 cm) : resesksi anatomose
Jika panjang, maka tidak di-anastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. Untuk striktura yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen, yaitu:
1. Tahap I, yaitu hipospodia artifisial, dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis)
2. Tahap II, yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium, mukosa buccal, atau dari belakang daun telinga.
6. Filiform bougies
untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter.
7. Medika mentosa
a. Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
b. Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
8. Pembedahan
• Sistostomi suprapubis
• Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.
• Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.
• Uretrotomi eksterna: tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
9. Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
3. Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
4. Nyeri / kenyamanan: Nyeri suprapubik
5. Keamanan : demam
6. Penyuluhan / pembelajaran
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan : nyeri berkurang / hilang
Kriteria hasil:
a. Melaporkan penurunan nyeri
b. Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks
C. INTERVENSI
• Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
• Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang,
peningkatan TD)
• Berikan pilihan tindakan rasa nyaman.Bantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman.Ajarkan tehnik relaksasi dan bantu bimbingan imajinas
• Dokumentasikan dan observasi efek dari obat yang diinginkan dan efek
Sampingnya
• Secara intermiten irigasi kateter uretra/suprapubis gunakan sesuai advis, salin normal steril dan spuit steril. Masukkan cairan perlahan-lahan, jangan terlalu kuat. Lanjutkan irigasi sampai urin jernih tidak ada bekuan.
• Jika tindakan gagal untuk mengurangi nyeri, konsultasikan dengan dokter untuk penggantian dosis atau interval obat.
KTI DM
BAB I
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan terjadi kontraksi. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. Striktura uretra adalah penyempitan lumen uretra disertai menurunnya (hilangnya) elastisitas uretra. Hal ini karena uretra sering terjadi di pars bulbaris sebagian besar striktura uretra terjadi karena trauma di daerah perineal, yang disebut straddle injury.
Striktur uretra adalah istilah medis ketika dinding saluran kencing telah rusak karena terkena infeksi PMS. Pertama yang terjadi adalah adanya luka pada dinding saluran kencing, selanjutnya dinding yang terluka tersebut dapat menempel dengan dinding di depannya atau menimbulkan jaringan parut pada saluran itu. Dapat dibayangkan, saluran kencing menjadi lebih sempit bahkan menutup sama sekali sehingga sangat mengganggu kencing. Jika ini terjadi, akan terasa sangat sakit dan cukup sulit disembuhkan
Dari uraian di atas, sekarang sudah cukup jelas, baik pria atau wanita mulai saat ini harus bisa menjaga kesehatan reproduksi kita sendiri. Jangan melakukan perilaku-perilaku seksual yang nantinya merugikan diri kita sendiri. Alangkah baiknya jika kita bisa mengenal organ reproduksi kita sendiri, baik bagian luar maupun bagian dalam, dengan lebih baik. Jangan merasa jijik atau ragu lagi buat memeriksa alat kelamin kita sendiri. Ini sangat penting karena jika ada kelainan, kita bisa segera mengenalinya dan mencari pengobatan yang tepat sebelum terjadi komplikasi-komplikasi yang merugikan.
Derajat penyempitan uretra:
a. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
b. Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
c. Berat : oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.
Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
B. PENYEBAB
1. Kongenital
Struktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomaly salurah kemih yang lain
Hal ini jarang terjadi.
Misalnya:
a) Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.
b) Divertikula kongenital penyebab proses striktura uretra.
2. Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktur (fraktur pelvis, trauma uretra anterior, tindakan sistoskopi, prostatektomi, katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury, perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi seperti kita ketahui, antara prostat dan ospubis dihubungkan oleh lig, puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan diameter lumen uretra tidak proporsional.
3. Infeksi,
Seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO).
Kalau kita menemukan pasien dengan uretritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan jaringan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan penggantinya adalah jaringan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur.
4. Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra.
5. Didapat.
• Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)
• Cedera akibat peregangan
• Cedera akibat kecelakaan
• Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
• Infeksi
• Spasmus otot
• Tekanan dari luar misalnya pertumbuhan tumor
C. PATOFISIOLOGI
Kongenital Didapat
Infeksi
Anomali saluran kemih yang lain Spasmus otot
Tekanan dari luar:tumor Cedera uretral
Cedera peregangan
Uretritis Gonorhea
Jaringan parut penyempitan lumen uretra
Kekuatan pancaran & jumlah urin berkurang Total tersumbat
Obstruksi saluran kemih yg bermuara ke Vesika Urinaria
Peningkatan tekanan vesika urinaria refluk urin
hidroureter
Penebalan dinding vesika urinaria
hidronefrosis
penurunan kontraksi otot vesika urinaria pyelonefritis
Gagal ginjal akut Kesukitan berkemih retensi urin
Gagal ginjal kronis
D. TANDA DAN GEJALA
Tanda
1. Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
2. Gejala infeksi
3. Retensi urinarius
4. Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis
Gejala :
1. Pancaran air kencing lemah
2. Pancaran air kencing bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian.
3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tuiuh kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya.
4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis muskulus spinter uretra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh), namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal.
5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang, penampilan keruh, Ph: 7 atau lebih besar, bakteria.
b. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus, Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
c. BUN (blood urea nitrogen) / kreatin : meningkat
d. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
e. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
f. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
F. PENATALAKSANAAN
1. fisik
Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis.
Normalnya pada orang dewasa, vesika yang kosong terletak di belakang simfisis pubis. Berbeda dengan letak vesica pada bayi dan anak. Pada bayi dan anak, vesica terletak lebih ke atas, sehingga pada bayi dan anak fungsi vesika boleh dilakukan pada saat vesika tidak penuh. Kalau pada orang dewasa, vesika yang tidak penuh merupakan kontraindikasi fungsi vesika.
2. Radiologi:
Tidak jelas, karena memang letaknya di uretra, kecuali bila ada fistula uretrocutaneus.
Metal kecil
Uretrografi retrograde
Memasukkan kateter ke dalam uretra, kemudian dimasukkan obat ke arah uretra prosimal. Dengan demikin bisa diketahui daerah mana yang menyempit.
Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang, serta total tidaknya striktura).Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra), sehingga panjang dan juga ketebalan striktura dapat diketahui. Dikatakan striktura total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur.
Keuntungan Uretrosistografi bipolar:
- Mengetahui persis panjan striktur
- Mengetahui total penyempitan.
- Mengetahui persis lokasinva.
3. Intravenously pylogram (IVP)
IVP dilakukan untuk:
- Melihat anatomi saluran kencing bagian atas .
- Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy).
- Melihat tulang pelvis (post trauma), dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak.
4. Laboratorium
Pemeriksaan darah untuk menilai faal ginjal, dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin, termasuk Hb.
5. Terapi
1.Konservatif: bouginasi (logam, plastik)
Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Hanya dokter spesialis yang boleh melakukan. Ini karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretranya. Bentuk uretra itu seperti huruf S. Nah kalau bentuk ini tidak dipahami dengan baik, terus dimasukkan bahan yang keras ke uretra, dapat terjadi cedera di bagian bagian belokan. Terutama sekali di daerah pars bulbaris, sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan, bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter, fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial.
2. Operatif
a) Tertutup (uretrotomi interna), dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sachse (dengan lensa). Prosedur sache ini yang paling sering digunakan.
Indikasi Sache adalah:
Struktur lumen masih berlubang (incomplete)
Striktur pendek. Panjangnya < 0,5 cm. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial), akibat tingkat residifnya tinggi.
b) Terbuka, ada 2 cara, yaitu:
Jika pendek (0,5-1 cm) : resesksi anatomose
Jika panjang, maka tidak di-anastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. Untuk striktura yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen, yaitu:
1. Tahap I, yaitu hipospodia artifisial, dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis)
2. Tahap II, yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium, mukosa buccal, atau dari belakang daun telinga.
6. Filiform bougies
untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter.
7. Medika mentosa
a. Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
b. Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
8. Pembedahan
• Sistostomi suprapubis
• Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.
• Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.
• Uretrotomi eksterna: tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
9. Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
3. Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
4. Nyeri / kenyamanan: Nyeri suprapubik
5. Keamanan : demam
6. Penyuluhan / pembelajaran
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan : nyeri berkurang / hilang
Kriteria hasil:
a. Melaporkan penurunan nyeri
b. Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks
C. INTERVENSI
• Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
• Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang,
peningkatan TD)
• Berikan pilihan tindakan rasa nyaman.Bantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman.Ajarkan tehnik relaksasi dan bantu bimbingan imajinas
• Dokumentasikan dan observasi efek dari obat yang diinginkan dan efek
Sampingnya
• Secara intermiten irigasi kateter uretra/suprapubis gunakan sesuai advis, salin normal steril dan spuit steril. Masukkan cairan perlahan-lahan, jangan terlalu kuat. Lanjutkan irigasi sampai urin jernih tidak ada bekuan.
• Jika tindakan gagal untuk mengurangi nyeri, konsultasikan dengan dokter untuk penggantian dosis atau interval obat.
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan terjadi kontraksi. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. Striktura uretra adalah penyempitan lumen uretra disertai menurunnya (hilangnya) elastisitas uretra. Hal ini karena uretra sering terjadi di pars bulbaris sebagian besar striktura uretra terjadi karena trauma di daerah perineal, yang disebut straddle injury.
Striktur uretra adalah istilah medis ketika dinding saluran kencing telah rusak karena terkena infeksi PMS. Pertama yang terjadi adalah adanya luka pada dinding saluran kencing, selanjutnya dinding yang terluka tersebut dapat menempel dengan dinding di depannya atau menimbulkan jaringan parut pada saluran itu. Dapat dibayangkan, saluran kencing menjadi lebih sempit bahkan menutup sama sekali sehingga sangat mengganggu kencing. Jika ini terjadi, akan terasa sangat sakit dan cukup sulit disembuhkan
Dari uraian di atas, sekarang sudah cukup jelas, baik pria atau wanita mulai saat ini harus bisa menjaga kesehatan reproduksi kita sendiri. Jangan melakukan perilaku-perilaku seksual yang nantinya merugikan diri kita sendiri. Alangkah baiknya jika kita bisa mengenal organ reproduksi kita sendiri, baik bagian luar maupun bagian dalam, dengan lebih baik. Jangan merasa jijik atau ragu lagi buat memeriksa alat kelamin kita sendiri. Ini sangat penting karena jika ada kelainan, kita bisa segera mengenalinya dan mencari pengobatan yang tepat sebelum terjadi komplikasi-komplikasi yang merugikan.
Derajat penyempitan uretra:
a. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
b. Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
c. Berat : oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.
Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
B. PENYEBAB
1. Kongenital
Struktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomaly salurah kemih yang lain
Hal ini jarang terjadi.
Misalnya:
a) Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.
b) Divertikula kongenital penyebab proses striktura uretra.
2. Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktur (fraktur pelvis, trauma uretra anterior, tindakan sistoskopi, prostatektomi, katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury, perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi seperti kita ketahui, antara prostat dan ospubis dihubungkan oleh lig, puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagian-bagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan diameter lumen uretra tidak proporsional.
3. Infeksi,
Seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO).
Kalau kita menemukan pasien dengan uretritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama dengan jaringan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan penggantinya adalah jaringan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu agar menuntaskan pengobatan. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali striktur maka selamanya striktur.
4. Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan tumor yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang mengakibatkan sumbatan uretra.
5. Didapat.
• Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)
• Cedera akibat peregangan
• Cedera akibat kecelakaan
• Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
• Infeksi
• Spasmus otot
• Tekanan dari luar misalnya pertumbuhan tumor
C. PATOFISIOLOGI
Kongenital Didapat
Infeksi
Anomali saluran kemih yang lain Spasmus otot
Tekanan dari luar:tumor Cedera uretral
Cedera peregangan
Uretritis Gonorhea
Jaringan parut penyempitan lumen uretra
Kekuatan pancaran & jumlah urin berkurang Total tersumbat
Obstruksi saluran kemih yg bermuara ke Vesika Urinaria
Peningkatan tekanan vesika urinaria refluk urin
hidroureter
Penebalan dinding vesika urinaria
hidronefrosis
penurunan kontraksi otot vesika urinaria pyelonefritis
Gagal ginjal akut Kesukitan berkemih retensi urin
Gagal ginjal kronis
D. TANDA DAN GEJALA
Tanda
1. Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
2. Gejala infeksi
3. Retensi urinarius
4. Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis
Gejala :
1. Pancaran air kencing lemah
2. Pancaran air kencing bercabang
Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya. Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi penyempitan karena striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen. Mirip seperti pancaran keran di westafel kalau ditutup sebagian.
3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tuiuh kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya.
4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra. Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis muskulus spinter uretra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh), namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia paradoxal.
5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang, penampilan keruh, Ph: 7 atau lebih besar, bakteria.
b. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus, Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
c. BUN (blood urea nitrogen) / kreatin : meningkat
d. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
e. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
f. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
F. PENATALAKSANAAN
1. fisik
Vesika urinaria dapat teraba karena ada retensio urine. Vesika terlihat menonjol di atas simfisis pubis.
Normalnya pada orang dewasa, vesika yang kosong terletak di belakang simfisis pubis. Berbeda dengan letak vesica pada bayi dan anak. Pada bayi dan anak, vesica terletak lebih ke atas, sehingga pada bayi dan anak fungsi vesika boleh dilakukan pada saat vesika tidak penuh. Kalau pada orang dewasa, vesika yang tidak penuh merupakan kontraindikasi fungsi vesika.
2. Radiologi:
Tidak jelas, karena memang letaknya di uretra, kecuali bila ada fistula uretrocutaneus.
Metal kecil
Uretrografi retrograde
Memasukkan kateter ke dalam uretra, kemudian dimasukkan obat ke arah uretra prosimal. Dengan demikin bisa diketahui daerah mana yang menyempit.
Uretrosistografi bipolar (untuk mengetahui panjang, serta total tidaknya striktura).Kontras bisa di atas (pool atas lewat vesika urinaria) ataupun di bawah (pool bawah lewat uretra), sehingga panjang dan juga ketebalan striktura dapat diketahui. Dikatakan striktura total bila sampai tidak ada kontras yang tersisa pada striktur.
Keuntungan Uretrosistografi bipolar:
- Mengetahui persis panjan striktur
- Mengetahui total penyempitan.
- Mengetahui persis lokasinva.
3. Intravenously pylogram (IVP)
IVP dilakukan untuk:
- Melihat anatomi saluran kencing bagian atas .
- Melihat sisa urin (Post Voiding/ PV) pada striktur parsial yang biasanya disertai BPH (Benign Prostate Hyperplasy).
- Melihat tulang pelvis (post trauma), dengan melihat ada tidaknya tulang pelvis yang retak.
4. Laboratorium
Pemeriksaan darah untuk menilai faal ginjal, dimana kadar ureum/kreatinin naik menunjukkan adanya kerusakan fungsi ginjal. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan darah rutin, termasuk Hb.
5. Terapi
1.Konservatif: bouginasi (logam, plastik)
Yaitu dengan memasukkan bahan dari logam atau plastik untuk memperlebar saluran yang mengalami penyempitan tadi. Ini harus dilakukan dengan hati-hati. Hanya dokter spesialis yang boleh melakukan. Ini karena yang melakukan harus tahu betul bentuk uretranya. Bentuk uretra itu seperti huruf S. Nah kalau bentuk ini tidak dipahami dengan baik, terus dimasukkan bahan yang keras ke uretra, dapat terjadi cedera di bagian bagian belokan. Terutama sekali di daerah pars bulbaris, sehingga bahan tadi bisa tembus ke rektum. Oleh karena itulah sewaktu dilakukan tindakan, bentuk uretra diubah dulu menjadi bentuk huruf L atau U. Itulah sebabnya pada pemasangan kateter, fiksasi dilakukan di bagian depan paha atau di abdomen bagian bawah. Maksudnya untuk membuat uretra menjadi berbentuk L atau U itu tadi. Tindakan ini dapat dilakukan untuk pasien pasca prostatektomi dan striktura yang parsial.
2. Operatif
a) Tertutup (uretrotomi interna), dapat berupa otis (tanpa lensa) dan dengan sachse (dengan lensa). Prosedur sache ini yang paling sering digunakan.
Indikasi Sache adalah:
Struktur lumen masih berlubang (incomplete)
Striktur pendek. Panjangnya < 0,5 cm. tapi di Indonesia teknik ini dilakukan juga pada striktura yang panjangnya 1-2 cm (asal partial), akibat tingkat residifnya tinggi.
b) Terbuka, ada 2 cara, yaitu:
Jika pendek (0,5-1 cm) : resesksi anatomose
Jika panjang, maka tidak di-anastomose lagi karena bentuknya bisa seperti belut ketika ereksi. Untuk striktura yang panjang ini operasi dilakukan dalam dua tahap menurut Johansen, yaitu:
1. Tahap I, yaitu hipospodia artifisial, dibuat hipospodia (muara uretra terletak di ventral proksimal dari penis)
2. Tahap II, yaitu uretroplasti berupa menutup uretra yang terbuka dengan mengambil dari preputium, mukosa buccal, atau dari belakang daun telinga.
6. Filiform bougies
untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter.
7. Medika mentosa
a. Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
b. Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
8. Pembedahan
• Sistostomi suprapubis
• Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.
• Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.
• Uretrotomi eksterna: tindakan operasi terbuka berupa pemotongan jaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
9. Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
3. Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
4. Nyeri / kenyamanan: Nyeri suprapubik
5. Keamanan : demam
6. Penyuluhan / pembelajaran
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan : nyeri berkurang / hilang
Kriteria hasil:
a. Melaporkan penurunan nyeri
b. Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks
C. INTERVENSI
• Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
• Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang,
peningkatan TD)
• Berikan pilihan tindakan rasa nyaman.Bantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman.Ajarkan tehnik relaksasi dan bantu bimbingan imajinas
• Dokumentasikan dan observasi efek dari obat yang diinginkan dan efek
Sampingnya
• Secara intermiten irigasi kateter uretra/suprapubis gunakan sesuai advis, salin normal steril dan spuit steril. Masukkan cairan perlahan-lahan, jangan terlalu kuat. Lanjutkan irigasi sampai urin jernih tidak ada bekuan.
• Jika tindakan gagal untuk mengurangi nyeri, konsultasikan dengan dokter untuk penggantian dosis atau interval obat.
KTI ARTRITIS REMATOID
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA PADA NY. S. DENGAN ARTRITIS REMATOID
DI DUSUN
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu tolak ukur kemajuan suatu Bangsa seringkali dilihat dari harapan hidup penduduknya. Demikian juga Indonesia sebagai Negara bekembang dengan perkembangannya yang cukup baik, makin tinggi harapan hidupnya di proyeksikan dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2000 yang akan datang.
Saat ini, disluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 miliar. Dari data USA, bahkan Indonesia diperkirakan akan mengalami pertambahan warga Lansia terbesar diseluruh dunia, diantara tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414% (Kinsella dan Taeuber, 1993)
Hal ini merupakan gambaran pada seluruh Negara-negara di dunia, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemajuan dalam kondisi sosio, ekonominya masing-masing.
Namun ilmu pengetahuan dan teknologi masih di tantang dengan menerangkan sebab-sebab orang menjadi tua. Proses menua merupakan suatu misteri kehidupan yang masih belum dapat diungkapkan. Secara individu, pada usia diatas 55 tahun menjadi proses penuaan secara ilmiah. Hal ini menimbulkan maslah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
DEFENISI
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap kerusakan yang diderita.
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Proses menua sudah berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, mislanya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf, jaringan lain, sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
2.2 Mitos-Mitos Lanjutan Usia dan Kenyataanya.
Menurut Sheiera Saul
1. Mitos kedamaian dan ketenangan
Lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya di masa muda dan dewasanya, berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati.
Kenyataan :
Sering ditemui stress
Depresi
Kekhawatiran
Paranoid
2. Mitos konservatisme dan kemunduran
Pandangan bahwa lanjut usia pada umumnya :
- Konservatif
- Tidak kreatif
- Menolak Inovasi
- Berorientasi ke masa silam
- Merindukan masa lalu
- Kembali ke masa anak-anak
- Susah berubah
- Keras kepala
- Cerewet
Kenyataan :
Tidak semua lanjut usia bersikap dan berpikiran demikian.
3. Mitos berpenyakitan
Lanjut usia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh berbagai penderitaan akibat bermacam-macam penyakit yang menyertai proses menua.
Kenyataan :
Memang proses penuaan disertai dengan menurunya daya tahan tubuh dan metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit.
Tetapi banyak penyakit yang masa sekarang dapat dikontrol dan diobati.
4. Mitos Senilitas
Lanjut usia dipandang sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak.
5. Mitos Tidak Jatuh Cinta
Lanjut usia tidak lagi jatuh cinta dan gairah kepada lawan jenis tidak ada.
Kenyataan :
Perasaan dan emosi setiap orang berubah sepanjang masa
Perasaan cinta tidak berhenti hanya karena menjadi lanjut usia
6. Mitos Aseksualitas
ada pandangan bahwa pada lanjut usia, hubungan seks itu menurun, minat, dorongan, gairah, kebutuhan dan daya seks berkurang.
Kenyataan :
Menunjukkan bahwa kehidupan seks pada lanjut usia normal saja.
7. Mitos Ketidakproduktifan
Lanjut usia dipandang sebagai usia tidka produktif.
Kenyataan :
Banyak lanjut usia yang mencapai kematangan, kemantapan dan produktifitas mental dan material.
2.3 Teori-Teori Proses Menua
2.3.1 Teori-teori Biologi
1. Teori Genetik dan Mutasi
Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogramkan oleh molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.
2. Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sesl-sel tubuh lelah.
3. Teori akumulasi dari produk sisa
Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh.
4. Peningkatan jumlah kalogen dalam jaringan
5. Tidak ada perlindungan terhadap; radiasi, penyakit dan kekurangan gizi
6. Reaksi dari kekebalan sendiri
Didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suat zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut. Sehinga jaringan tubuh menjadi lemah.
7. Teori Imunologi Slow virus
Sisitem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
8. Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal. Kelebihan usaha dan stres menyebabakan sel-sel tubuh telah dipakai.
9. Teori Radikal Bebas
Radikal dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
10. Teori Rantai Silang
Reaksi kimia sel-sel yang tua dan usang menyebabkan ikatan yang kuat. Ikatan ini menyebabkan kurang elastis fungsi.
11. Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel-sel yang membelah setelah sel-sel mati.
2.3.2 Teori kejiwaan Sosial
1. Aktivitas atau kegiatan
2. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
3. Teori pembebasan (Disengagement Theory)
Mengakibatkan interkasi sosial lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasi sehingga sering terjadi kehilangan ganda :
Kehilangan peran
Hambatan kontak sosial
Berkurangnya komitmen
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan
Hereditas : keturunan/genetic
Nutrisi : makanan
Status kesehatan
Pengalaman hidup
Lingkungan
Stres
2.5 Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia
2.5.1 Perubahan-perubahan fisik
A. Sel
Lebih sedikit jumlahnya
Lebih besar ukurannya
Berkurang jumlah cairan tubuh dan intraseluler
Menurun proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati
Jumlah sel otak menurun
Terganggunya mekanisme perbaikan sel
Otak menjadi atrofis bertany kurang 5-10%
B. Sistem Persarafan
Berat otak menurun 10-20%
Cepatnya menurun hubungan persarafan
Lambat dalam respond an waktu untuk bereaksi
Mengecilnya saraf panca indra
Kurang sensitif terhadap sentuhan
C. Sistem Pendengaran
Presbiakusis (Gangguan pada pendengaran)
Membran timpani menjadi atrofi
Terjadinya pengumpulan cerumen dan mengeras
Pendengaran bertambah menurun
D. Sistem Pengelihatan
Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilang respon terhadap sinar
Kornea berbentuk sferis (bola)
Lensa lebih suram
Meningktanya ambang, susah melihat
Hilangnya daya akomodasi
Menurunya daya membedakan warna biru atau hijau
E. Sistem Kardiovaskuler
Elastisitas dingin aorta menurun
Katup jantung menebal dan menjadi kaku
Kemampuan jantung memompa darah menurun
Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Tekanan darah meningkat
F. Sistem Pengaturan Termperatur Tubuh
Temperatur tubuh menurun
Keterbatasan refleks menggigil
G. Sistem Respirasi
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan
Menurunnya aktivitas dan silia
Paru-paru kehilangan elastisitas
H. Sistem Gastrointestinal
Kehilangan gigi
Indra pengecap menurun
Esofagus menurun
Peristaltik lemah dan timbul konstipasi
Fungsi absorbsi melemah
Liver makin mengecil
I. Sistem Genitourinaria
Ginjal : mengalami pengecilan
Vesika Urinaria : otot menjadi lemah, kapasitas menurun mengakibatkan frekuensi BAK meningkat
J. Sistem Endokrin
Produksi Hormon menurun
K. Sistem Integumen
Mengerut/keriput
Permukaan kulit kasar dan bersisik
Menurunya respon terhadap trauma
Kulit kepala dan rambut menipis
Rambut dalam hidung dan telinga menebal
Pertumbuhan kuku lambat
L. Sistem Muskuloskletal
Tulang kehilangan cairan
Kefosis
Discus Invertebralis menipis dan menjadi pendik
Persendian membesar dan kaku
Tendon mengerut dan mengalami sclerosis
2.5.2 Perubahan-Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
Perubahan Fisik
Kesehatan umum
Tingkat pendidikan
Keturunan
Lingkungan
2.5.3 Perubahan-Perubahan Psikososial
Pensiun
Mengalami kehilangan : - Kehilangan Finansial
- Kehilangan Status
- Kehilangan teman
- Kehilangan pekerjaan
Merasakan / sadar akan kematian
Perubahan dalam cara hidup
Penyakit kronis dan ketidakmampuan
2.6 Masalah dan Penyakit yang sering kali dihadapi LANSIA
2.6.1 Masalah Fisik Sehari-Hari
Mudah jatuh
Mudah lelah
Disebabkan oleh : - Faktor psikologis
- Ganguan organis
- Pengaruh obat-obat
Kekacauan mental
Disebabkan oleh : - Keracunan
- Penyakit infeksi
- Penyakit metabolisme
- Dehidrasi
Nyeri dada
Disebabkan oleh : - Penyakit jantung
- Radang selaput jantung
Sesak nafas pada waktu melakukan kerja fisik
Palpifasi
Pembengkakan kaki bagian bawah
Nyeri pinggang atau punggung
Nyeri pada sendi pinggul
Berat badan menurun
Suka menahan buang air seni
Gangguan pada ketajaman penglihatan
Gangguan pendengaran
Gangguan tidur
Pusing-pusing
2.6.2 Penyakit yang sering dijumpai pada LANSIA
a. Penyakit sistem Paru dan Kardiovaskuler
Paru-paru
Jantung dan pembuluh darah
Penykit jantung koroner
Hipertensi
b. Penyakit pencernaan makanan
Gastritis
Ulcus Peptikum
c. Penyakit sistem Urogenital
Peradangan kandung kemih
Peradangan ginjal
d. Penyakit pada persendian dan Tulang
Osteoporosis
Gout
2.7 Asuhan Keperawatan pada Lansia
Tujuan
Lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri
Mempertahankan kesehatan
Membantu mempertahankan serta membesarkan semangat hidup klien
Merawat dan menolong klien Lansia
Merangsang petugas kesehatan menegakkan diagnosa yang tepat
Fokus Asuhan Keperawatan
1. Meningkatkan Kesehatan (Health Promotion)
2. Pencegahan Penyakit (Preventive)
3. mengoptimalkan fungsi mental
4. mengatasi gangguan kesehatan
Pengkajian
a. Fisik : - Head to toe
- Sistem tubuh
b. Psikologis : Mengenal masalah-masalah utama
c. Sosio ekonomi : Mengenai finansial Lansia
d. Spritual : Keyakinan
Pengkajian Dasar
Temperatur
Pulse
Respirasi
Tekanan Darah
Berat Badan
Tingkat Orientasi
Memory
Pola Tidur
Pemeriksaan per sistem
Diagnosa Keperawatan
1. Fisik/Biologis
Gangguan Nutrisi
Gangguan persepsi sensori
Kurang perawatan diri
Potensial Cedera fisik
Gangguan pola tidur
Perubahan pola eliminasi
Gangguan mobilitas fisik
2. Psikososial
Isolasi sosial
Menarik diri dari lingkungan
Depresi
Harga diri rendah
Koping tidak adekuat
3. Spiritual
Reaksi berkabung atau berduka
Penolakan terhadap proses penuaan
Marah
Perasaan tidak tenang
Rencana Keperawatan
Melibatkan klien dan keluarganya dalam perencanaan
Bekerjasama dengan profesi kesehatan lain
Cegah timbulnya masalah
FORMAT PENGKAJIAN LANSIA
Identitas diri Klien
Nama : Ny. S. S
Umur : 65 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Menikah
Agama : Kristen Protestan
Suku : Batak
Pendidikan terakhir : SLTP
Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
1. Keluhan utama
Ny. S mengatakan adanya nyeri pada persendian dan nyeri pada pinggang disaat selesai kerja, dan Ny. S mengatakan mengalami pusing dan lemas disaat melakukan pekerjaan.
2. Kronologi keluhan
Pencetus / penyebab
Ny. S mengatakan karena penuaan
Timbul secara
Timbul jika Ny. S sedang beraktivitas
Upaya mengatasi
Ny. S mengatakan harus beristirahat
Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit yang pernah diderita : Ny. S mengatakan tidak pernah mengalami penyakit.
Mulai kapan : tidak ada
Bagaimana pengobatannya : tidak ada
Riwayat kecelakaan : tidak ada
Riwayat alergi : tidak ada
Riwayat kesehatan keluarga
Ny. S mempunyai anak 5.
Genogram
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Lansia
: Tinggal Serumah
Riwayat Psikososial dan Spritual
1) orang terdekat dengan klien : Ny. S mengatakan tinggal serumah dengan anak laki-lakinya.
2) Masalah yang mempengaruhi klien : tidak ada
3) Mekanisme koping terhadap stress : Ny. S mengatakan pada saat stress klien melakukan aktivitas
4) Persepsi klien tentang penyakit : Ny. S mengatakan dapat menerima keadaannya sendiri dan konsultasi ke Bidan.
5) Sistem nilai kepercayaan : Ny. S mengatakan selalu mengikuti ibadah setiap hari minggu dan masih sanggup untuk kebaktian harian
Pengkajian Status Mental
a. Daya Orientasi
b. Daya Ingat : Ny. S mengatakan masih sanggup mengingat hari-hari yang lampau dan Ny. S dapat menceritakannya kembali.
c. Kontak Mata : selama pengkajian kontak mata dengan klien baik.
Pola kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi
Frekuensi makan : Ny. S mengatakan pola makan 3 kali sehari
Nafsu makan : Ny. S mengatakan nafsu makan kuat
Jenis makanan : Nasi, Sayur, Ikan
Makanan pantangan : tidak ada makanan pantangan
2. Eliminasi
Pada saat ini Ny. S tidak ada keluhan pada saat BAB dan BAK.
Ny. S tidak ada masalah sampai sekarang
3. Higiene Personal
a. Mandi
Frekuensi : OS mengatakan 2 kali sehari mandi
Pemakaian sabun : OS mandi mandi dengan memakai sabun
b. Higiene Oral
Frekuensi : OS mengatakan tidak pernah
c. Cuci rambut
Frekuensi : OS mengatakan 1 kali seminggu
Pengguanan Shampo : Kadang-kadang
d. Gunting Kuku
Frekuensi : OS mengatakan 1kali sebulan
4. Istirahat dan Tidur
a. Ny. S mengatakan tidur siang kadang karena ingin selalu berktivitas
b. Ny. S mengatakan tiap malam kadang susah tidur paling lama 6 jam
5. Aktivitas dan latihan
a. Olahraga
OS mengatakan tidak pernah olah raga
b. Kegiatan waktu luang
OS mengatakan pergi ke kebun/sawah
c. Keluhan dalam beraktivitas
OS mengatakan pegal pada pinggang
6. Kebiasaan
a. Merokok : OS tidak merokok
b. Minuman Keras : OS tidak minum minuman keras
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : ku as baik
Tanda vital : TD : 130/100; RR : 24x/i; pols : 84x/i
Kepala : Bentuk kepala simetris, rambut sudah beruban
Rambut : Rambut beruban
Mata : Simetris, tidak anemis
Hiduang : Simetris, tidak ada peradangan, dapat membedakan bau
Telinga : Simetris, dapat mendengar dengan baik
Mulut dan bibir : Simetris
Leher : Tidak ada kelainan
Dada : Tidak ada kelainan
Abdomen : Pada infeksi abdomen simetris
Genitalia : Perineum klien bersih dan tidak ditemukan adanya kelainan pada alat genetalia
Ekstremitas : Bentuk simetris
ANALISIS DATA
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : Ny. S.S mengatakan nyeri terjadi pada sendi bila bergerak terlalu lama
DO : Ada pembengkakan pada sendi Inflamasi pada sendi Nyeri
Diagnosa Keperawatan
Nyeri b/d inflamasi pada sendi d/d Ny. S mengatakan nyeri bila beraktifitas terlalu lama atau mengangkat yang berat.
RECANA ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Umum Khusus Kriteria Standard
Nyeri b/d inflamasi pada sendi d/d Ny. S mengatakan nyeri bila beraktifitas Setelah dilakukan intervensi ini diharapkan keluarga mampu mengatasi nyeri timbul pada Ny.S Setelah dilakukan intervensi keluarga diharapkan mampu menggerakkan/ mengetahui :
- Cara mencegah timbulnya nyeri
- Cara mengatasi nyeri
- Mengidentifikasi kegiatan yang bisa ditoleransi Respon Verbal Ny. S mengerti tentang :
- cara mencegah timbulnya nyeri
- Cara mengatasi nyeri
- Indentifikasi kegiatan yang bisa ditoleransi
1) Diskusikan dengan keluraga Ny. S kegiatan yang bisa menimbulkan nyeri pada sendi
2) Jelaskan kegiatan yang bisa dan yang tidak bisa dilakukan
3) Jelaskan cara menghindari timbulnya nyeri
4) Diskusikan cara yang dilakukan keluarga untuk mengatasi nyeri.
5) Ajarkan cara yang dilakukan saat timbul nyeri.
Diagnosa Keperawatan
Waktu / Tanggal Implementasi Evaluasi
Nyeri b/d inflamasi pada sendi d/d Ny. S mengatakan nyeri bila beraktivitas Senin, 04-05-2009 Mendiskusikan dengan keluarga Ny. S kegiatan yang bisa menimbulkan nyeri pada sendi.
Menjelaskan kegiatan yang bisa dan tidak bisa dilakukan
Menjelaskan cara menghindari timbulnya nyeri
Mendiskusikan cara yang dilakukan keluarga untuk mengatasi nyeri
Mengajarkan cara yang dilakukan saat timbulnya nyeri. S : Keluraga mengatakan sudah mengerti tentang penjelasan dari penyuluh.
O : Keluarga dapat mengulang penjelasan dari penyuluh
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
Selasa, 05-05-2009 Menyatakan kembali penjelasan penyuluh sebelumnya apakah dapat diterapkan dalam melakukan aktivitas. S : Ny. S mengatakan sudah mengurangi kegiatan yang bila menimbulkan rasa sakit pada sendinya.
O : Ny. S tidak melakukan pekerjaan berat
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dilanjutakan
DI DUSUN
BAB I
PENDAHULUAN
Salah satu tolak ukur kemajuan suatu Bangsa seringkali dilihat dari harapan hidup penduduknya. Demikian juga Indonesia sebagai Negara bekembang dengan perkembangannya yang cukup baik, makin tinggi harapan hidupnya di proyeksikan dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2000 yang akan datang.
Saat ini, disluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 miliar. Dari data USA, bahkan Indonesia diperkirakan akan mengalami pertambahan warga Lansia terbesar diseluruh dunia, diantara tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414% (Kinsella dan Taeuber, 1993)
Hal ini merupakan gambaran pada seluruh Negara-negara di dunia, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kemajuan dalam kondisi sosio, ekonominya masing-masing.
Namun ilmu pengetahuan dan teknologi masih di tantang dengan menerangkan sebab-sebab orang menjadi tua. Proses menua merupakan suatu misteri kehidupan yang masih belum dapat diungkapkan. Secara individu, pada usia diatas 55 tahun menjadi proses penuaan secara ilmiah. Hal ini menimbulkan maslah fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
DEFENISI
Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap kerusakan yang diderita.
Menua bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh. Proses menua sudah berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa, mislanya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan syaraf, jaringan lain, sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit.
2.2 Mitos-Mitos Lanjutan Usia dan Kenyataanya.
Menurut Sheiera Saul
1. Mitos kedamaian dan ketenangan
Lanjut usia dapat santai menikmati hasil kerja dan jerih payahnya di masa muda dan dewasanya, berbagai goncangan kehidupan seakan-akan sudah berhasil dilewati.
Kenyataan :
Sering ditemui stress
Depresi
Kekhawatiran
Paranoid
2. Mitos konservatisme dan kemunduran
Pandangan bahwa lanjut usia pada umumnya :
- Konservatif
- Tidak kreatif
- Menolak Inovasi
- Berorientasi ke masa silam
- Merindukan masa lalu
- Kembali ke masa anak-anak
- Susah berubah
- Keras kepala
- Cerewet
Kenyataan :
Tidak semua lanjut usia bersikap dan berpikiran demikian.
3. Mitos berpenyakitan
Lanjut usia dipandang sebagai masa degenerasi biologis yang disertai oleh berbagai penderitaan akibat bermacam-macam penyakit yang menyertai proses menua.
Kenyataan :
Memang proses penuaan disertai dengan menurunya daya tahan tubuh dan metabolisme sehingga rawan terhadap penyakit.
Tetapi banyak penyakit yang masa sekarang dapat dikontrol dan diobati.
4. Mitos Senilitas
Lanjut usia dipandang sebagai masa pikun yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak.
5. Mitos Tidak Jatuh Cinta
Lanjut usia tidak lagi jatuh cinta dan gairah kepada lawan jenis tidak ada.
Kenyataan :
Perasaan dan emosi setiap orang berubah sepanjang masa
Perasaan cinta tidak berhenti hanya karena menjadi lanjut usia
6. Mitos Aseksualitas
ada pandangan bahwa pada lanjut usia, hubungan seks itu menurun, minat, dorongan, gairah, kebutuhan dan daya seks berkurang.
Kenyataan :
Menunjukkan bahwa kehidupan seks pada lanjut usia normal saja.
7. Mitos Ketidakproduktifan
Lanjut usia dipandang sebagai usia tidka produktif.
Kenyataan :
Banyak lanjut usia yang mencapai kematangan, kemantapan dan produktifitas mental dan material.
2.3 Teori-Teori Proses Menua
2.3.1 Teori-teori Biologi
1. Teori Genetik dan Mutasi
Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogramkan oleh molekul / DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.
2. Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stress menyebabkan sesl-sel tubuh lelah.
3. Teori akumulasi dari produk sisa
Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh.
4. Peningkatan jumlah kalogen dalam jaringan
5. Tidak ada perlindungan terhadap; radiasi, penyakit dan kekurangan gizi
6. Reaksi dari kekebalan sendiri
Didalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suat zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat tersebut. Sehinga jaringan tubuh menjadi lemah.
7. Teori Imunologi Slow virus
Sisitem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus kedalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
8. Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal. Kelebihan usaha dan stres menyebabakan sel-sel tubuh telah dipakai.
9. Teori Radikal Bebas
Radikal dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
10. Teori Rantai Silang
Reaksi kimia sel-sel yang tua dan usang menyebabkan ikatan yang kuat. Ikatan ini menyebabkan kurang elastis fungsi.
11. Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel-sel yang membelah setelah sel-sel mati.
2.3.2 Teori kejiwaan Sosial
1. Aktivitas atau kegiatan
2. Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)
3. Teori pembebasan (Disengagement Theory)
Mengakibatkan interkasi sosial lansia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitasi sehingga sering terjadi kehilangan ganda :
Kehilangan peran
Hambatan kontak sosial
Berkurangnya komitmen
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketuaan
Hereditas : keturunan/genetic
Nutrisi : makanan
Status kesehatan
Pengalaman hidup
Lingkungan
Stres
2.5 Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lanjut Usia
2.5.1 Perubahan-perubahan fisik
A. Sel
Lebih sedikit jumlahnya
Lebih besar ukurannya
Berkurang jumlah cairan tubuh dan intraseluler
Menurun proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati
Jumlah sel otak menurun
Terganggunya mekanisme perbaikan sel
Otak menjadi atrofis bertany kurang 5-10%
B. Sistem Persarafan
Berat otak menurun 10-20%
Cepatnya menurun hubungan persarafan
Lambat dalam respond an waktu untuk bereaksi
Mengecilnya saraf panca indra
Kurang sensitif terhadap sentuhan
C. Sistem Pendengaran
Presbiakusis (Gangguan pada pendengaran)
Membran timpani menjadi atrofi
Terjadinya pengumpulan cerumen dan mengeras
Pendengaran bertambah menurun
D. Sistem Pengelihatan
Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilang respon terhadap sinar
Kornea berbentuk sferis (bola)
Lensa lebih suram
Meningktanya ambang, susah melihat
Hilangnya daya akomodasi
Menurunya daya membedakan warna biru atau hijau
E. Sistem Kardiovaskuler
Elastisitas dingin aorta menurun
Katup jantung menebal dan menjadi kaku
Kemampuan jantung memompa darah menurun
Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Tekanan darah meningkat
F. Sistem Pengaturan Termperatur Tubuh
Temperatur tubuh menurun
Keterbatasan refleks menggigil
G. Sistem Respirasi
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan
Menurunnya aktivitas dan silia
Paru-paru kehilangan elastisitas
H. Sistem Gastrointestinal
Kehilangan gigi
Indra pengecap menurun
Esofagus menurun
Peristaltik lemah dan timbul konstipasi
Fungsi absorbsi melemah
Liver makin mengecil
I. Sistem Genitourinaria
Ginjal : mengalami pengecilan
Vesika Urinaria : otot menjadi lemah, kapasitas menurun mengakibatkan frekuensi BAK meningkat
J. Sistem Endokrin
Produksi Hormon menurun
K. Sistem Integumen
Mengerut/keriput
Permukaan kulit kasar dan bersisik
Menurunya respon terhadap trauma
Kulit kepala dan rambut menipis
Rambut dalam hidung dan telinga menebal
Pertumbuhan kuku lambat
L. Sistem Muskuloskletal
Tulang kehilangan cairan
Kefosis
Discus Invertebralis menipis dan menjadi pendik
Persendian membesar dan kaku
Tendon mengerut dan mengalami sclerosis
2.5.2 Perubahan-Perubahan Mental
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental
Perubahan Fisik
Kesehatan umum
Tingkat pendidikan
Keturunan
Lingkungan
2.5.3 Perubahan-Perubahan Psikososial
Pensiun
Mengalami kehilangan : - Kehilangan Finansial
- Kehilangan Status
- Kehilangan teman
- Kehilangan pekerjaan
Merasakan / sadar akan kematian
Perubahan dalam cara hidup
Penyakit kronis dan ketidakmampuan
2.6 Masalah dan Penyakit yang sering kali dihadapi LANSIA
2.6.1 Masalah Fisik Sehari-Hari
Mudah jatuh
Mudah lelah
Disebabkan oleh : - Faktor psikologis
- Ganguan organis
- Pengaruh obat-obat
Kekacauan mental
Disebabkan oleh : - Keracunan
- Penyakit infeksi
- Penyakit metabolisme
- Dehidrasi
Nyeri dada
Disebabkan oleh : - Penyakit jantung
- Radang selaput jantung
Sesak nafas pada waktu melakukan kerja fisik
Palpifasi
Pembengkakan kaki bagian bawah
Nyeri pinggang atau punggung
Nyeri pada sendi pinggul
Berat badan menurun
Suka menahan buang air seni
Gangguan pada ketajaman penglihatan
Gangguan pendengaran
Gangguan tidur
Pusing-pusing
2.6.2 Penyakit yang sering dijumpai pada LANSIA
a. Penyakit sistem Paru dan Kardiovaskuler
Paru-paru
Jantung dan pembuluh darah
Penykit jantung koroner
Hipertensi
b. Penyakit pencernaan makanan
Gastritis
Ulcus Peptikum
c. Penyakit sistem Urogenital
Peradangan kandung kemih
Peradangan ginjal
d. Penyakit pada persendian dan Tulang
Osteoporosis
Gout
2.7 Asuhan Keperawatan pada Lansia
Tujuan
Lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri
Mempertahankan kesehatan
Membantu mempertahankan serta membesarkan semangat hidup klien
Merawat dan menolong klien Lansia
Merangsang petugas kesehatan menegakkan diagnosa yang tepat
Fokus Asuhan Keperawatan
1. Meningkatkan Kesehatan (Health Promotion)
2. Pencegahan Penyakit (Preventive)
3. mengoptimalkan fungsi mental
4. mengatasi gangguan kesehatan
Pengkajian
a. Fisik : - Head to toe
- Sistem tubuh
b. Psikologis : Mengenal masalah-masalah utama
c. Sosio ekonomi : Mengenai finansial Lansia
d. Spritual : Keyakinan
Pengkajian Dasar
Temperatur
Pulse
Respirasi
Tekanan Darah
Berat Badan
Tingkat Orientasi
Memory
Pola Tidur
Pemeriksaan per sistem
Diagnosa Keperawatan
1. Fisik/Biologis
Gangguan Nutrisi
Gangguan persepsi sensori
Kurang perawatan diri
Potensial Cedera fisik
Gangguan pola tidur
Perubahan pola eliminasi
Gangguan mobilitas fisik
2. Psikososial
Isolasi sosial
Menarik diri dari lingkungan
Depresi
Harga diri rendah
Koping tidak adekuat
3. Spiritual
Reaksi berkabung atau berduka
Penolakan terhadap proses penuaan
Marah
Perasaan tidak tenang
Rencana Keperawatan
Melibatkan klien dan keluarganya dalam perencanaan
Bekerjasama dengan profesi kesehatan lain
Cegah timbulnya masalah
FORMAT PENGKAJIAN LANSIA
Identitas diri Klien
Nama : Ny. S. S
Umur : 65 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Menikah
Agama : Kristen Protestan
Suku : Batak
Pendidikan terakhir : SLTP
Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
1. Keluhan utama
Ny. S mengatakan adanya nyeri pada persendian dan nyeri pada pinggang disaat selesai kerja, dan Ny. S mengatakan mengalami pusing dan lemas disaat melakukan pekerjaan.
2. Kronologi keluhan
Pencetus / penyebab
Ny. S mengatakan karena penuaan
Timbul secara
Timbul jika Ny. S sedang beraktivitas
Upaya mengatasi
Ny. S mengatakan harus beristirahat
Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit yang pernah diderita : Ny. S mengatakan tidak pernah mengalami penyakit.
Mulai kapan : tidak ada
Bagaimana pengobatannya : tidak ada
Riwayat kecelakaan : tidak ada
Riwayat alergi : tidak ada
Riwayat kesehatan keluarga
Ny. S mempunyai anak 5.
Genogram
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Lansia
: Tinggal Serumah
Riwayat Psikososial dan Spritual
1) orang terdekat dengan klien : Ny. S mengatakan tinggal serumah dengan anak laki-lakinya.
2) Masalah yang mempengaruhi klien : tidak ada
3) Mekanisme koping terhadap stress : Ny. S mengatakan pada saat stress klien melakukan aktivitas
4) Persepsi klien tentang penyakit : Ny. S mengatakan dapat menerima keadaannya sendiri dan konsultasi ke Bidan.
5) Sistem nilai kepercayaan : Ny. S mengatakan selalu mengikuti ibadah setiap hari minggu dan masih sanggup untuk kebaktian harian
Pengkajian Status Mental
a. Daya Orientasi
b. Daya Ingat : Ny. S mengatakan masih sanggup mengingat hari-hari yang lampau dan Ny. S dapat menceritakannya kembali.
c. Kontak Mata : selama pengkajian kontak mata dengan klien baik.
Pola kebiasaan sehari-hari
1. Nutrisi
Frekuensi makan : Ny. S mengatakan pola makan 3 kali sehari
Nafsu makan : Ny. S mengatakan nafsu makan kuat
Jenis makanan : Nasi, Sayur, Ikan
Makanan pantangan : tidak ada makanan pantangan
2. Eliminasi
Pada saat ini Ny. S tidak ada keluhan pada saat BAB dan BAK.
Ny. S tidak ada masalah sampai sekarang
3. Higiene Personal
a. Mandi
Frekuensi : OS mengatakan 2 kali sehari mandi
Pemakaian sabun : OS mandi mandi dengan memakai sabun
b. Higiene Oral
Frekuensi : OS mengatakan tidak pernah
c. Cuci rambut
Frekuensi : OS mengatakan 1 kali seminggu
Pengguanan Shampo : Kadang-kadang
d. Gunting Kuku
Frekuensi : OS mengatakan 1kali sebulan
4. Istirahat dan Tidur
a. Ny. S mengatakan tidur siang kadang karena ingin selalu berktivitas
b. Ny. S mengatakan tiap malam kadang susah tidur paling lama 6 jam
5. Aktivitas dan latihan
a. Olahraga
OS mengatakan tidak pernah olah raga
b. Kegiatan waktu luang
OS mengatakan pergi ke kebun/sawah
c. Keluhan dalam beraktivitas
OS mengatakan pegal pada pinggang
6. Kebiasaan
a. Merokok : OS tidak merokok
b. Minuman Keras : OS tidak minum minuman keras
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : ku as baik
Tanda vital : TD : 130/100; RR : 24x/i; pols : 84x/i
Kepala : Bentuk kepala simetris, rambut sudah beruban
Rambut : Rambut beruban
Mata : Simetris, tidak anemis
Hiduang : Simetris, tidak ada peradangan, dapat membedakan bau
Telinga : Simetris, dapat mendengar dengan baik
Mulut dan bibir : Simetris
Leher : Tidak ada kelainan
Dada : Tidak ada kelainan
Abdomen : Pada infeksi abdomen simetris
Genitalia : Perineum klien bersih dan tidak ditemukan adanya kelainan pada alat genetalia
Ekstremitas : Bentuk simetris
ANALISIS DATA
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : Ny. S.S mengatakan nyeri terjadi pada sendi bila bergerak terlalu lama
DO : Ada pembengkakan pada sendi Inflamasi pada sendi Nyeri
Diagnosa Keperawatan
Nyeri b/d inflamasi pada sendi d/d Ny. S mengatakan nyeri bila beraktifitas terlalu lama atau mengangkat yang berat.
RECANA ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
Diagnosa Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Umum Khusus Kriteria Standard
Nyeri b/d inflamasi pada sendi d/d Ny. S mengatakan nyeri bila beraktifitas Setelah dilakukan intervensi ini diharapkan keluarga mampu mengatasi nyeri timbul pada Ny.S Setelah dilakukan intervensi keluarga diharapkan mampu menggerakkan/ mengetahui :
- Cara mencegah timbulnya nyeri
- Cara mengatasi nyeri
- Mengidentifikasi kegiatan yang bisa ditoleransi Respon Verbal Ny. S mengerti tentang :
- cara mencegah timbulnya nyeri
- Cara mengatasi nyeri
- Indentifikasi kegiatan yang bisa ditoleransi
1) Diskusikan dengan keluraga Ny. S kegiatan yang bisa menimbulkan nyeri pada sendi
2) Jelaskan kegiatan yang bisa dan yang tidak bisa dilakukan
3) Jelaskan cara menghindari timbulnya nyeri
4) Diskusikan cara yang dilakukan keluarga untuk mengatasi nyeri.
5) Ajarkan cara yang dilakukan saat timbul nyeri.
Diagnosa Keperawatan
Waktu / Tanggal Implementasi Evaluasi
Nyeri b/d inflamasi pada sendi d/d Ny. S mengatakan nyeri bila beraktivitas Senin, 04-05-2009 Mendiskusikan dengan keluarga Ny. S kegiatan yang bisa menimbulkan nyeri pada sendi.
Menjelaskan kegiatan yang bisa dan tidak bisa dilakukan
Menjelaskan cara menghindari timbulnya nyeri
Mendiskusikan cara yang dilakukan keluarga untuk mengatasi nyeri
Mengajarkan cara yang dilakukan saat timbulnya nyeri. S : Keluraga mengatakan sudah mengerti tentang penjelasan dari penyuluh.
O : Keluarga dapat mengulang penjelasan dari penyuluh
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
Selasa, 05-05-2009 Menyatakan kembali penjelasan penyuluh sebelumnya apakah dapat diterapkan dalam melakukan aktivitas. S : Ny. S mengatakan sudah mengurangi kegiatan yang bila menimbulkan rasa sakit pada sendinya.
O : Ny. S tidak melakukan pekerjaan berat
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dilanjutakan
KTI ANEMIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Semua sel hidup memerlukan material untuk bertahan hidup dan melakukan fungsi kerja yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Perubahan massa sel darah merah menimbulkan dua keadaan yang berbeda, jika jumlah sel darah merah kurang, maka timbul anemia.
Anemia adalah tanda dari suatu proses perjalanan penyakit yang dapat diidentifikasikan karena anemia bukan penyakit yang spesifik. Telah diketahui secara umum anemia yang berat dapat membuat shock, biasanya gejalanya tidak diperhatikan oleh penderita.
Beberapa ahli epidemiologi mengkalkulasikan sedikitnya satu setengah populasi di dunia yang menderita anemia. Data tersebut memberi gambaran bahwa masalah anemia perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik karena kalau tidak akan menimbulkan komplikasi. Dalam hal ini perawat penting memberi penyuluhan tentang istirahat, pola makanan yang baik serta pengobatan yang teratur untuk membantu dalam proses penyembuhan dan peningkatan penyakit.
B. TUJUAN PENULISAN
Penulisan makalah ini bertujuan mengaplikasikan semua teori yang telah penulis peroleh melalui praktek asuhan keperawatan di lapangan.
1. Agar mahasiswa memahami anatomi, fisiologi dan patofisiologi yang berhubungan dengan penyakit anemia.
2. Agar mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien anemia.
3. Agar mahasiswa mampu memberikan penyuluhan terhadap pasien di rumah sakit mengenai penanganan penyakit anemia.
C. METODE PENULISAN
Dalam menyusun makalah ini penulis mengumpulkan data dengan informasi dengan cara :
1. Studi pustaka, dengan mengumpulkan dan mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan anemia.
2. Pengamatan kasus yang dilakukan secara langsung di rumah sakit.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan makalah ini diawali dengan kata pengantar dan daftar isi, dilanjutkan Bab I. Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulisan. Bab II. Tinjauan teoritis terdiri dari konsep dasar medik dan konsep asuhan keperawatan. Bab III diuraikan mengenai pengamatan kasus. Hasil pengamatan kasus dibahas pada Bab IV yang berisi tentang Pembahasan kasus. Bab V tentang kesimpulan, dan pada bagian akhir makalah ini dilampirkan daftar pustaka.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP MEDIK
1. Definisi
Anemia adalah suatu penurunan dari normal terhadap eritrosit, jumlah haemoglobin dan hematokrit yang disebabkan oleh perdarahan, berkurangnya produksi eritrosit atau peningkatan penghancuran sel darah merah. (Sharon Mantik Lewis, 2000, hal. 736).
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar Hb dan Ht di bawah normal. (Brunner & Suddarth, 2000).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar haemoglobin atau jumlah eritrosit lebih rendah dari keadaan normal yaitu bila Hb berkurang dari 14 g/dl dan hematokrit kurang dari 41% pada pria atau Hb kurang dari 12 g/dl dan hematokrit kurang dari 37% pada wanita. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000, hal. 547).
Klasifikasi anemia :
1) Anemia mikrositik hipokrom
Adalah keadaan dimana kandungan besi tubuh total turun di bawah tingkat normal (dewasa pria : 13,5-18 g/dl; wanita : 12-16 g/dl). Besi diperlukan untuk sintesa hemoglobin).
2) Anemia makrositik
a. Anemia defisiensi Vit. B12 (pernisiosa)
Kekurangan vitamin B12 akibat gangguan absorpsi vitamin yang merupakan penyakit herediter autoimun.
b. Anemia defisiensi asam folat
Penurunan absorpsi asam folat jarang ditemukan karena absorbsi terjadi di saluran cerna.
c. Anemia karena perdarahan.
d. Anemia hemolitik
Terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari) baik sementara maupun terus-menerus).
e. Anemia aplastik.
Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang membentuk sel-sel darah.
2. Anatomi Fisiologi
Darah adalah suatu jaringan tubuh berupa cairan yang terdapat di pembuluh darah yang jumlahnya pada orang sehat dewasa 1/3 dari berat badan atau kira-kira 4-5 liter. Hal ini tergantung dari umur, pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Darah terdiri dari komponen cair (plasma) : 91-92% dan padat 7-9%.
Komponen padat darah terdiri dari :
2.1. Eritrosit (sel darah merah)
Berbentuk bulat pipih, tidak mempunyai inti sel, jumlahnya kira-kira 5 juta/mm3 darah. Dibentuk dalam sumsum tulang dan dirangsang oleh hormon eritropoetin yang berasal dari ginjal. Usia eritrosit dalam peredarannya adalah 120 hari. Di dalam sel eritrosit dapat didapat hemoglobin yaitu suatu senyawa kimiawi yang terdiri dari molekul Hem yang mempunyai ion Fe (besi) yang terkait dengan rantai globin (suatu senyawa protein). Hemoglobin berperan mengangkut oksigen dan CO2. Jumlah hemoglobin pada laki-laki 14-16 gr% dan wanita 12-14%.
2.2. Leukosit (sel darah putih)
Berwarna bening, dapat berubah-ubah serta mempunyai inti sel. Jumlah sel darah putih normalnya adalah 4.800-10.800 /mm3. Fungsi utamanya adalah sebagai pertahanan tubuh.
2.3. Trombosit (sel pembeku darah)
Berupa benda-benda kecil yang mati dimana bentuk dan ukurannya bermacam-macam. Trombosit dibuat di sumsum tulang, paru-paru dan limfa yang diameternya 1-4 m dan umur peredarannya sekitar 10 hari. Jumlah trombosit normal 150.000-450.000 /ul.
Fungsi darah adalah :
1. Sebagai alat pengangkut, yaitu :
1.1 Mengambil O2 atau zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh.
1.2 Mengambil CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
1.3 Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan ke seluruh jaringan/alat tubuh.
1.4 Mengangkut dan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh dan ginjal.
2. Sebagai pertahanan tubuh terhadap bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantaraan leukosit, antibodi/zat anti racun.
3. Menyebarkan panas ke seluruh tubuh.
Gambar Anatomi
3. Etiologi
3.1. Penurunan produksi eritrosit, yaitu terdiri dari:
3.1.1. Peningkatan sintesis hemoglobin seperti defisiensi zat besi dan thalasemia.
3.1.2. Rusaknya sintesis DNA karena penurunan vitamin B12 (cobalamin) dan defisiensi asam folat.
3.1.3. Pencetus terhadap penurunan jumlah eritrosit seperti anemia aplastik, anemia dari leukemia, dan penyakit kronik.
3.2. Perdarahan
3.2.1. Akut, bisa disebabkan karena trauma dan rupturnya pembuluh darah.
3.2.2. Kronik, seperti gastritis, menstruasi dan hemoroid.
3.3. Peningkatan penghancuran eritrosit
3.3.1. Intrinsik : hemoglobin yang tidak normal, defisiensi enzim (G6PD)
3.3.2. Ekstrinsik : trauma fisik, antibodi, infeksi dan toksik (malaria).
4. Patofisiologi
Anemia adalah sebagian akibat produksi sel darah merah tidak mencukupi dan sebagian lagi akibat sel darah merah yang prematur, kehilangan darah, kurang nutrisi dan herediter. Semuanya ini mengakibatkan gangguan atau kerusakan pada sumsum tulang. Sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi seperti pada berbagai kelainan hemolitik. Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit O2 yang dikirimkan ke jaringan. Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan, menimbulkan simtomatologi sekunder hipovolemia dan hipoksemia. Tanda dan gejala yang sering timbul adalah gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardia, sesak nafas, kolaps sirkulasi yang progresif cepat atau syok. Takikardia dan bising jantung (suara yang disebabkan oleh kecepatan aliran darah yang meningkat. Angina (sakit dada), khususnya pada penderita yang tua dengan stenosis koroner, dapat diakibatkan karena iskemia miokardium. Pada anemia berat, dapat menimbulkan payah jantung kongestif sebab otot jantung kekurangan oksigen dengan beban kerja jantung yang meningkat. Dispnea, nafas pendek dan cepat, lelah waktu melakukan aktivitas jasmani merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman O2. Sakit kepala, pusing, kelemahan dan tinitus (telinga berdengung) dapat menggambarkan berkurangnya oksigenisasi pada susunan saraf pusat. Pada anemia yang berat dapat juga timbul gejala saluran cerna yang umumnya berhubungan dengan keadaan defisiensi. Gejala-gejala ini adalah anoreksia, nausea, konstipasi atau diare dan stomatitis. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu terganggu, adalah :
1. Hemoglobinopati : hemoglobin abnormal yang diturunkan misalnya anemia sel sabit.
2. Gangguan sintesis globin, misalnya thalasemia.
3. Gangguan membran sel darah merah, misalnya sterositosis herediter.
4. Defisiensi enzim, misalnya defisiensi G6PD (glucose 6-fosfat dehidogenase).
5. Tanda dan gejala
• Kulit (pucat, kuning, pruritus)
• Mata (ikterik, konjungtiva dan sklera, penglihatan kabur)
• Mulut (glositis, rasa tidak enak di mulut)
• Kardiovaskuler (takikardia, peningkatan tekanan darah, murmur sistolik, intermittent claudication, nyeri, CHF, MCI)
• Paru-paru (tachypnea, orthopnea, dyspnea)
• Saraf (sakit kepala, pusing, penurunan aktivitas)
• Sistem pencernaan (anorexia, hepatomegali, splenomegali, gangguan menelan)
• Muskuloskeletal (nyeri pada tulang)]
• Umum (sensitif terhadap dingin, penurunan berat badan dan mudah mengantuk).
6. Pemeriksaan Diagnostik
• Darah lengkap
- Hemoglobin
- Hematokrit
- Retikulosit
- Bilirubin
- Eritrosit
- Trombosit
- Leukosit.
• Pemeriksaan feses
• Pemeriksaan urine
• BMP hiperplasi pada sumsum tulang
• Rontgen foto cholelithiasis
• Scan liver splan
• Serum vitamin B12
7. Komplikasi
Komplikasi umum anemia meliputi gagal jantung, parestesia dan kejang. Pada setiap tingkat anemia, pasien dengan penyakit jantung cenderung lebih besar kemungkinannya mengalami angina atau gejala gagal jantung kongestif daripada seseorang yang tidak mempunyai penyakit jantung. Komplikasi dapat terjadi sehubungan dengan jenis anemia tertentu.
8. Therapi dan Pengelolaan Medik
a. Kemoterapi
b. Imanotherapi
c. Radiasi
d. Transfusi darah.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adanya kelelahan, sakit kepala, adanya keluhan kedinginan.
Riwayat perdarahan, misalnya ulcus, haemoroid, penyakit ginjal, penyakit hati, Ca, infeksi kronis, adanya angina.
Adanya riwayat pengobatan.
Riwayat terkena zat kimia, seperti radiasi.
Kaji riwayat keturunan seperti anemia thalasemia.
1.2. Pola nutrisi metabolik
Penurunan BB.
Kurang nafsu makan.
Mual muntah.
Adanya gangguan dalam mulut, tidak selera makan.
Kelainan rasa pengecapan.
1.3. Pola eliminasi
Adanya konstipasi dan diare.
Adanya kembung, peningkatan peristaltik usus.
Penurunan pengeluaran urine.
Adanya perdarahan di feses dan urine.
1.4. Pola aktivitas dan latihan
Adanya kelelahan dan toleransi beraktifitas.
Kelemahan, kelelahan, malaise.
Penurunan latihan.
Kebutuhan istirahat dan tidur bertambah.
1.5. Pola persepsi kognitif
Adanya sakit kepala, pusing.
Ada rasa baal di tangan dan kaki.
Operasi besar seperti splenectomi, pengangkatan prostat.
Nyeri dada dan tulang.
Adanya gangguan penglihatan dan pendengaran.
Gatal-gatal.
Hipersensitif terhadap dingin.
1.6. Pola reproduksi dan seksualitas
Adanya penurunan libido.
Perubahan siklus menstruasi menorhagia, amenorhoe.
Impoten.
Metrokhagia.
Perdarahan pada sebelum dan sesudah partus.
2. Diagnosa Keperawatan
2.1. Hypoxemia b.d kekurangan oksigen dalam sel darah merah.
2.2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d anorexia.
2.3. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d hypoxemia jaringan, bed rest, imobilisasi.
2.4. Ketidakmampuan merawat diri b.d kelemahan dan kelelahan karena penurunan oksigen dalam darah.
2.5. Perubahan pola eliminasi : konstipasi atau diare b.d perubahan intake dan perubahan dalam digestif efek samping obat.
2.6. Risiko tinggi infeksi b.d pertahanan sekunder yang tidak adekuat seperti penurunan Hb, leucopeni.
3. Perencanaan
3.1. Hypoxemia b.d kekurangan oksigen dalam sel darah merah.
Hasil yang diharapkan :
• Oksigen dalam sel darah merah terpenuhi.
• Tidak terjadi cyanosis.
Rencana Tindakan :
• Berikan posisi semifowler.
R/ Meningkatkan ekspansi paru.
• Monitor dan catat tanda hypoxemia seperti kelemahan, kelelahan, dam confusi.
R/ Mengetahui lebih dini tanda hypoxemia dan menolong memberi intervensi selanjutnya.
• Kaji konjungtiva dan tanda-tanda cyanosis.
R/ Untuk mengetahui tanda-tanda kekurangan oksigen.
• Kaji pernapasan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas.
R/ Kemungkinan timbulnya dispnea dan tachipnea.
• Berikan oksigen sesuai program medik.
R/ Meningkatkan suplai oksigen karena hipoksia.
• Monitor AGD.
R/ Penurunan pH dan tanda hipoksemia.
• Monitor Hb.
R/ Menentukan kapasitas anemia.
• Ajarkan teknik relaksasi dan napas efektif.
R/ Mengurangi dispnea.
3.2. Kekurangan nutrisi b.d anoreksia tidak nafsu makan.
Hasil yang diharapkan :
• Pasien mampu menghabiskan makanan 1 porsi.
• Tidak terjadi penurunan berat badan.
• Tidak terjadi dehidrasi.
Rencana Tindakan :
• Jaga higiene mulut sesudah dan sebelum makan.
R/ Memberi rasa nyaman dan meningkatkan nafsu makan.
• Observasi kelainan di lidah, mulut dan oesofagus.
R/ Stomatitis dan glositis dan kemungkinan terjadi anemia.
• Beri diit lunak pada kelainan mulut.
R/ Untuk mencegah iritasi lebih lanjut.
• Beri vitamin dan mineral sesuai pesan dokter.
R/ Untuk meningkatkan absorbsi dan metabolisme.
• Ajarkan pasien tentang diet dan hubungan diet dan hubungan dengan penyakitnya.
R/ Meningkatkan kooperatif pasien untuk menaati diet.
• Catat porsi makan yang dihabiskan.
R/ Memberi masukan dan jumlah kalori.
• Timbang berat badan tiap hari.
R/ Perubahan berat badan membantu perubahan nutrisi.
3.3. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d hypoxemia jaringan, bedrest, imobilisasi.
Hasil yang diharapkan :
• Kerusakan integritas kulit tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
• Kaji kulit pasien terhadap adanya kemerahan dan indurasi.
R/ Penekanan pada daerah tertentu akan menghambat sirkulasi dan hypoxemia jaringan.
• Kaji kebersihan kulit.
R/ Mencegah infeksi.
• Berikan posisi selang seling tiap 2 jam.
R/ Memperlancar sirkulasi darah dan mencegah penekanan.
• Ajarkan latihan ROM
R/ Merangsang sirkulasi.
3.4. Ketidakmampuan merawat diri b.d kelemahan, kelelahan karena penurunan oksigen di dalam darah.
Hasil yang diharapkan :
• Pasien dapat memenuhi kebutuhan nutrisi.
• Kelelahan, kelemahan tidak terjadi lagi.
Rencana Tindakan :
• Kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas harian tanpa ada keluhan, kelemahan, fatigue, kesulitan beraktifitas.
R/ Intervensi selanjutnya.
• Dekatkan kebutuhan pasien seperti air, tissue, bel.
R/ Mengurangi kebutuhan pasien sesuai tingkat kemampuan pasien.
• Anjurkan pasien untuk mobilisasi secara bertahap.
R/ Membantu mempercepat pasien kooperatif.
• Ubah posisi pasien secara bertahap dan monitor dizziness.
R/ Indikasi dari hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan nausea/muntah, resiko perlukaan.
3.5. Perubahan pola eliminasi : konstipasi/diare b.d penurunan intake, perubahan dalam digestif efek samping obat.
Hasil yang diharapkan :
• Pola eliminasi normal.
• Konstipasi tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
• Observasi feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.
R/ Mengidentifikasi penyebab atau faktor yang menunjang intervensi selanjutnya.
• Auskultasi bising usus.
R/ Bising usus meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.
• Monitor dan laporkan intake output per oral.
R/ Dapat menunjukkan dehidrasi, kehilangan cairan berlebihan atau tambahan dalam mengidentifikasi defisiensi.
• Konsultasi dengan ahli diet untuk pemberian diet seimbang tinggi serat.
R/ Makanan tinggi serat mempertahankan enzim pencernaan dan penyerapan cairan.
3.6. Resiko tinggi b.d pertahanan sekunder yang tidak adekuat seperti Hb, leukopeni.
Hasil yang diharapkan :
• Infeksi tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
• Kembangkan cara mencuci tangan yang benar dalam memberikan perawatan kepada pasien.
R/ Mencegah infeksi silang.
• Pertahankan tehnik aseptik sesuai dengan prosedur atau pengobatan luka.
R/ Mengurangi resiko infeksi bakterial.
• Berikan perawatan kulit, mulut dan perianal secara teliti dan cermat.
R/ Mengurangi resiko kerusakan integritas kulit atau jaringan dan infeksi.
• Monitor temperatur atau suhu, catat bila ada kedinginan, takikardia.
R/ Akibat dari infeksi yang membutuhkan tindakan.
4. Perencanaan Pulang
Perencanaan pulang pada pasien yang anemia adalah :
4.1. Pemeliharaan nutrisi yang adekuat yaitu mengkonsumsi makanan bergizi seperti mengandung asam folat dan vitamin B12 contoh : sayur-sayuran berwarna hijau; bayam, tempe, hati, ginjal, atau suplemen tambahan dan lain sebagainya.
4.2. Istirahat dan toleransi terhadap aktivitas.
4.3. Mencegah adanya komplikasi dengan segera minta bantuan kesehatan terdekat.
C. PATOFLOWDIAGRAM
Konsentrasi Hb terganggu
BAB III
PENGAMATAN KASUS
Pasien bernama Ny. V berusia 19 tahun, beragama Islam, masuk RS Sint. Carolus pada tanggal 9 Januari 2004 dengan diagnosa medik Anemia + GE, pasien masuk melalui UGD.
Alasan pasien masuk rumah sakit dan mencari perawatan adalah diare, mual, muntah, panas dingin, pusing dan berkunang-kunang lalu penglihatan gelap lalu pasien memeriksakan diri ke UGD dan dianjurkan untuk dirawat oleh dr.Eddy.
Keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, observasi tanda-tanda vital : TD : 100/70 mmHg, N : 76 x/menit, HR : 80 x/menit, Suhu: 36 oC. pernapasan : 22 x/menit. Pasien mengatakan sudah tidak diare, mual ada, pusing dan berkunang-kunang ada kadang-kadang dan berkeringat. TB: 162 cm, BB: 45 kg, IMT : 17,2. Kesimpulan berat badan berkurang. Pasien mengatakan bila duduk dan langsung berdiri kepala pusing, kunang-kunang dan gelap. Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit anemia.
Dalam hasil pemeriksaan diagnostik pada tanggal 9 Januari 2004: Hb: 8,9 g/dl (12,0-18,0 g/dl), Ht: 28% (37-52%), leukosit : 7200 /ul (4.800 – 10.800 /ul), trombosit : 420.000 /ul (150.000-450.000 /ul). Tanggal 10 Januari 2004 : Si: 7,9 ug/dl (38-148 ug/dl), T, BC: 286 ug/dl (248-419 ug/dl), retikulosit : 8% (5-12%), membran darah tepi: kesan GDT sesuai dengan anemia mikrositik.
Terapi yang digunakan adalah New Diatab 3x2 tab, imodium 1x1 tab, Danaflox 3x200 mg, Wiacid 2x1, dan Sotatic 2x1 amp. Diit yang diberikan diit lunak. Dari hasil pengamatan terdapat 3 masalah yaitu : perubahan nutrisi, resiko tinggi hipoxemia dan ketidakefektifan regimen terapeutik. Perencanaan dan pelaksanaan adalah pemberian terapi medik sesuai dosis, memberi penyuluhan untuk informasi pasien. Evaluasi yang didapat dari pelaksanaan yang dilakukan ialah pengetahuan pasien bertambah, dan kebutuhan nutrisi masih belum teratas sebelumnya.
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
Berdasarkan studi kepustakaan dari berbagai literatur dan dilakukan pengamatan langsung terhadap pasien Ny. V dengan anemia, penulis mencoba membandingkan antara teori dengan kasus yang ada.
1. Pengkajian
Sampai dengan akhir pengamatan penulis menyimpulkan bahwa anemia yang diderita Ny. V disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi seperti sayuran hijau dan riwayat gastritis yang dideritanya, pasien suka makanan yang pedas, dan jarang makan hati.
Berdasarkan hasil laboratorium terdapat penurunan sel darah merah : Hb: 8,9 g/dl (12-18 g/dl), Ht: 28% (37-52%), membran darah tepi.
Kesan : GDT sesuai dengan anemia mikrositik.
Pada tanda dan gejala tidak ditemukan dispnea, kelelahan, mual, pusing, mata berkunang-kunang mulai berkurang.
2. Diagnosa Keperawatan
Masalah yang ditemukan pada pasien yaitu :
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual.
b. Resiko hipoxemia b.d kekurangan oksigen dalam sel darah merah.
Sedangkan diagnosa yang tidak terjadi yaitu :
a. Ketidakmampuan merawat diri b.d kelemahan dan kelelahan karena penurunan oksigen dalam darha.
Tidak terjadi karena pasien sudah dapat memenuhi kebutuhannya dan bila lelah pasien istirahat di tempat tidur.
b. Perubahan pola eliminasi : konstipasi atau diare b.d perubahan intake dan perubahan dalam digestif efek samping obat.
Tidak terjadi karena pasien sudah mendapat therapi New Diatab 3x2 tab, Imodium 1x1 tablet. Sehingga pada saat pengkajian perubahan eliminasi : diare sudah tidak terjadi.
c. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d hypoxemia jaringan, bed rest, imobilisasi.
Tidak terjadi karena pasien sudah mobilisasi mandiri.
d. Resiko tinggi infeksi b.d pertahanan sekunder yang tidak adekuat seperti penurunan Hb, leukopeni.
Tidak ditemukan karena pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan Hb dan Ht sementara leukosit dan trombosit dalam nilai normal.
Sedangkan ada diagnosa yang diangkat penulis tapi tidak ada dalam literatur yaitu ketidakefektifan regimen terapeutik b.d informasi tentang pengobatan, tanda gejala, penyebab penyakit.
3. Perencanaan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada Ny. V dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan. Intervensi dapat dilakukan dan tidak menemukan hambatan yang berarti karena tersedianya fasilitas dan kerja sama yang baik antara perawat dengan pasien. Dalam pelaksanaan diutamakan penyuluhan kembali tentang penyakitnya dan penyebabnya agar tidak terulang lagi.
4. Evaluasi
Setelah dilakukan pelaksanaan, evaluasi semua belum dapat tercapai karena keterbatasan waktu dalam pelaksanaan dan pelaksanaannya dibutuhkan ketaatan terhadap diit untuk mengurangi terjadinya penyakit yang sama dan tidak terjadi komplikasinya.
BAB V
KESIMPULAN
Setelah mempelajari, membahas serta melihat pada kasus anemia yang dialami pada Ny. V, penulis mencoba untuk menarik kesimpulan bahwa penyebab anemia Ny. V karena faktor makanan yang kurang mengandung zat besi dan riwayat gastritis. Dari hasil pemeriksaan diagnostik terdapat penurunan Hb : 8,9 g/dl (12-18 g/dl), Ht: 28% (37-52%), Albumin : 3,1 g/dl (3,5-5,0 g/dl), Globulin : 4,4 g/dl (1,5-3,5 g/dl).
Pada kasus ditemukan 3 masalah yaitu : perubahan nutrisi, resiko hypoxemia dan ketidakefektifan regimen terapeutik. Setelah dilakukan pelaksanaan selama 1hari, sebagian dapat dilaksanakan dengan baik, tetapi evaluasi semua tidak dapat tercapai karena keterbatasan waktu pelaksanaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Catherine Parker (1976). Structure of Function of the Body. (Fifth edition). USA. CV. Mosby Company.
Brunner and Suddarth’s (2000). Text book of Medical Surgical Nursing. (Ninth edition). USA. Lippincott Williams and Wilkins.
Doengoes, M.E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. (Edisi ketiga). Jakarta: EGC.
Lewis, S.M. et.al (2000). Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical Problems. (Fifth edition). USA. Mosby inc.
Mansjoer, A. et. al (1999). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi ketiga). Jakarta. Media Aesculapius.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Semua sel hidup memerlukan material untuk bertahan hidup dan melakukan fungsi kerja yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Perubahan massa sel darah merah menimbulkan dua keadaan yang berbeda, jika jumlah sel darah merah kurang, maka timbul anemia.
Anemia adalah tanda dari suatu proses perjalanan penyakit yang dapat diidentifikasikan karena anemia bukan penyakit yang spesifik. Telah diketahui secara umum anemia yang berat dapat membuat shock, biasanya gejalanya tidak diperhatikan oleh penderita.
Beberapa ahli epidemiologi mengkalkulasikan sedikitnya satu setengah populasi di dunia yang menderita anemia. Data tersebut memberi gambaran bahwa masalah anemia perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik karena kalau tidak akan menimbulkan komplikasi. Dalam hal ini perawat penting memberi penyuluhan tentang istirahat, pola makanan yang baik serta pengobatan yang teratur untuk membantu dalam proses penyembuhan dan peningkatan penyakit.
B. TUJUAN PENULISAN
Penulisan makalah ini bertujuan mengaplikasikan semua teori yang telah penulis peroleh melalui praktek asuhan keperawatan di lapangan.
1. Agar mahasiswa memahami anatomi, fisiologi dan patofisiologi yang berhubungan dengan penyakit anemia.
2. Agar mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien anemia.
3. Agar mahasiswa mampu memberikan penyuluhan terhadap pasien di rumah sakit mengenai penanganan penyakit anemia.
C. METODE PENULISAN
Dalam menyusun makalah ini penulis mengumpulkan data dengan informasi dengan cara :
1. Studi pustaka, dengan mengumpulkan dan mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan anemia.
2. Pengamatan kasus yang dilakukan secara langsung di rumah sakit.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan makalah ini diawali dengan kata pengantar dan daftar isi, dilanjutkan Bab I. Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode dan sistematika penulisan. Bab II. Tinjauan teoritis terdiri dari konsep dasar medik dan konsep asuhan keperawatan. Bab III diuraikan mengenai pengamatan kasus. Hasil pengamatan kasus dibahas pada Bab IV yang berisi tentang Pembahasan kasus. Bab V tentang kesimpulan, dan pada bagian akhir makalah ini dilampirkan daftar pustaka.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. KONSEP MEDIK
1. Definisi
Anemia adalah suatu penurunan dari normal terhadap eritrosit, jumlah haemoglobin dan hematokrit yang disebabkan oleh perdarahan, berkurangnya produksi eritrosit atau peningkatan penghancuran sel darah merah. (Sharon Mantik Lewis, 2000, hal. 736).
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar Hb dan Ht di bawah normal. (Brunner & Suddarth, 2000).
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar haemoglobin atau jumlah eritrosit lebih rendah dari keadaan normal yaitu bila Hb berkurang dari 14 g/dl dan hematokrit kurang dari 41% pada pria atau Hb kurang dari 12 g/dl dan hematokrit kurang dari 37% pada wanita. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000, hal. 547).
Klasifikasi anemia :
1) Anemia mikrositik hipokrom
Adalah keadaan dimana kandungan besi tubuh total turun di bawah tingkat normal (dewasa pria : 13,5-18 g/dl; wanita : 12-16 g/dl). Besi diperlukan untuk sintesa hemoglobin).
2) Anemia makrositik
a. Anemia defisiensi Vit. B12 (pernisiosa)
Kekurangan vitamin B12 akibat gangguan absorpsi vitamin yang merupakan penyakit herediter autoimun.
b. Anemia defisiensi asam folat
Penurunan absorpsi asam folat jarang ditemukan karena absorbsi terjadi di saluran cerna.
c. Anemia karena perdarahan.
d. Anemia hemolitik
Terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari) baik sementara maupun terus-menerus).
e. Anemia aplastik.
Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang membentuk sel-sel darah.
2. Anatomi Fisiologi
Darah adalah suatu jaringan tubuh berupa cairan yang terdapat di pembuluh darah yang jumlahnya pada orang sehat dewasa 1/3 dari berat badan atau kira-kira 4-5 liter. Hal ini tergantung dari umur, pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Darah terdiri dari komponen cair (plasma) : 91-92% dan padat 7-9%.
Komponen padat darah terdiri dari :
2.1. Eritrosit (sel darah merah)
Berbentuk bulat pipih, tidak mempunyai inti sel, jumlahnya kira-kira 5 juta/mm3 darah. Dibentuk dalam sumsum tulang dan dirangsang oleh hormon eritropoetin yang berasal dari ginjal. Usia eritrosit dalam peredarannya adalah 120 hari. Di dalam sel eritrosit dapat didapat hemoglobin yaitu suatu senyawa kimiawi yang terdiri dari molekul Hem yang mempunyai ion Fe (besi) yang terkait dengan rantai globin (suatu senyawa protein). Hemoglobin berperan mengangkut oksigen dan CO2. Jumlah hemoglobin pada laki-laki 14-16 gr% dan wanita 12-14%.
2.2. Leukosit (sel darah putih)
Berwarna bening, dapat berubah-ubah serta mempunyai inti sel. Jumlah sel darah putih normalnya adalah 4.800-10.800 /mm3. Fungsi utamanya adalah sebagai pertahanan tubuh.
2.3. Trombosit (sel pembeku darah)
Berupa benda-benda kecil yang mati dimana bentuk dan ukurannya bermacam-macam. Trombosit dibuat di sumsum tulang, paru-paru dan limfa yang diameternya 1-4 m dan umur peredarannya sekitar 10 hari. Jumlah trombosit normal 150.000-450.000 /ul.
Fungsi darah adalah :
1. Sebagai alat pengangkut, yaitu :
1.1 Mengambil O2 atau zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh.
1.2 Mengambil CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
1.3 Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan ke seluruh jaringan/alat tubuh.
1.4 Mengangkut dan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh dan ginjal.
2. Sebagai pertahanan tubuh terhadap bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantaraan leukosit, antibodi/zat anti racun.
3. Menyebarkan panas ke seluruh tubuh.
Gambar Anatomi
3. Etiologi
3.1. Penurunan produksi eritrosit, yaitu terdiri dari:
3.1.1. Peningkatan sintesis hemoglobin seperti defisiensi zat besi dan thalasemia.
3.1.2. Rusaknya sintesis DNA karena penurunan vitamin B12 (cobalamin) dan defisiensi asam folat.
3.1.3. Pencetus terhadap penurunan jumlah eritrosit seperti anemia aplastik, anemia dari leukemia, dan penyakit kronik.
3.2. Perdarahan
3.2.1. Akut, bisa disebabkan karena trauma dan rupturnya pembuluh darah.
3.2.2. Kronik, seperti gastritis, menstruasi dan hemoroid.
3.3. Peningkatan penghancuran eritrosit
3.3.1. Intrinsik : hemoglobin yang tidak normal, defisiensi enzim (G6PD)
3.3.2. Ekstrinsik : trauma fisik, antibodi, infeksi dan toksik (malaria).
4. Patofisiologi
Anemia adalah sebagian akibat produksi sel darah merah tidak mencukupi dan sebagian lagi akibat sel darah merah yang prematur, kehilangan darah, kurang nutrisi dan herediter. Semuanya ini mengakibatkan gangguan atau kerusakan pada sumsum tulang. Sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi seperti pada berbagai kelainan hemolitik. Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit O2 yang dikirimkan ke jaringan. Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan, menimbulkan simtomatologi sekunder hipovolemia dan hipoksemia. Tanda dan gejala yang sering timbul adalah gelisah, diaforesis (keringat dingin), takikardia, sesak nafas, kolaps sirkulasi yang progresif cepat atau syok. Takikardia dan bising jantung (suara yang disebabkan oleh kecepatan aliran darah yang meningkat. Angina (sakit dada), khususnya pada penderita yang tua dengan stenosis koroner, dapat diakibatkan karena iskemia miokardium. Pada anemia berat, dapat menimbulkan payah jantung kongestif sebab otot jantung kekurangan oksigen dengan beban kerja jantung yang meningkat. Dispnea, nafas pendek dan cepat, lelah waktu melakukan aktivitas jasmani merupakan manifestasi berkurangnya pengiriman O2. Sakit kepala, pusing, kelemahan dan tinitus (telinga berdengung) dapat menggambarkan berkurangnya oksigenisasi pada susunan saraf pusat. Pada anemia yang berat dapat juga timbul gejala saluran cerna yang umumnya berhubungan dengan keadaan defisiensi. Gejala-gejala ini adalah anoreksia, nausea, konstipasi atau diare dan stomatitis. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi, dikenal dengan nama hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang mengakibatkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu terganggu, adalah :
1. Hemoglobinopati : hemoglobin abnormal yang diturunkan misalnya anemia sel sabit.
2. Gangguan sintesis globin, misalnya thalasemia.
3. Gangguan membran sel darah merah, misalnya sterositosis herediter.
4. Defisiensi enzim, misalnya defisiensi G6PD (glucose 6-fosfat dehidogenase).
5. Tanda dan gejala
• Kulit (pucat, kuning, pruritus)
• Mata (ikterik, konjungtiva dan sklera, penglihatan kabur)
• Mulut (glositis, rasa tidak enak di mulut)
• Kardiovaskuler (takikardia, peningkatan tekanan darah, murmur sistolik, intermittent claudication, nyeri, CHF, MCI)
• Paru-paru (tachypnea, orthopnea, dyspnea)
• Saraf (sakit kepala, pusing, penurunan aktivitas)
• Sistem pencernaan (anorexia, hepatomegali, splenomegali, gangguan menelan)
• Muskuloskeletal (nyeri pada tulang)]
• Umum (sensitif terhadap dingin, penurunan berat badan dan mudah mengantuk).
6. Pemeriksaan Diagnostik
• Darah lengkap
- Hemoglobin
- Hematokrit
- Retikulosit
- Bilirubin
- Eritrosit
- Trombosit
- Leukosit.
• Pemeriksaan feses
• Pemeriksaan urine
• BMP hiperplasi pada sumsum tulang
• Rontgen foto cholelithiasis
• Scan liver splan
• Serum vitamin B12
7. Komplikasi
Komplikasi umum anemia meliputi gagal jantung, parestesia dan kejang. Pada setiap tingkat anemia, pasien dengan penyakit jantung cenderung lebih besar kemungkinannya mengalami angina atau gejala gagal jantung kongestif daripada seseorang yang tidak mempunyai penyakit jantung. Komplikasi dapat terjadi sehubungan dengan jenis anemia tertentu.
8. Therapi dan Pengelolaan Medik
a. Kemoterapi
b. Imanotherapi
c. Radiasi
d. Transfusi darah.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adanya kelelahan, sakit kepala, adanya keluhan kedinginan.
Riwayat perdarahan, misalnya ulcus, haemoroid, penyakit ginjal, penyakit hati, Ca, infeksi kronis, adanya angina.
Adanya riwayat pengobatan.
Riwayat terkena zat kimia, seperti radiasi.
Kaji riwayat keturunan seperti anemia thalasemia.
1.2. Pola nutrisi metabolik
Penurunan BB.
Kurang nafsu makan.
Mual muntah.
Adanya gangguan dalam mulut, tidak selera makan.
Kelainan rasa pengecapan.
1.3. Pola eliminasi
Adanya konstipasi dan diare.
Adanya kembung, peningkatan peristaltik usus.
Penurunan pengeluaran urine.
Adanya perdarahan di feses dan urine.
1.4. Pola aktivitas dan latihan
Adanya kelelahan dan toleransi beraktifitas.
Kelemahan, kelelahan, malaise.
Penurunan latihan.
Kebutuhan istirahat dan tidur bertambah.
1.5. Pola persepsi kognitif
Adanya sakit kepala, pusing.
Ada rasa baal di tangan dan kaki.
Operasi besar seperti splenectomi, pengangkatan prostat.
Nyeri dada dan tulang.
Adanya gangguan penglihatan dan pendengaran.
Gatal-gatal.
Hipersensitif terhadap dingin.
1.6. Pola reproduksi dan seksualitas
Adanya penurunan libido.
Perubahan siklus menstruasi menorhagia, amenorhoe.
Impoten.
Metrokhagia.
Perdarahan pada sebelum dan sesudah partus.
2. Diagnosa Keperawatan
2.1. Hypoxemia b.d kekurangan oksigen dalam sel darah merah.
2.2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d anorexia.
2.3. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d hypoxemia jaringan, bed rest, imobilisasi.
2.4. Ketidakmampuan merawat diri b.d kelemahan dan kelelahan karena penurunan oksigen dalam darah.
2.5. Perubahan pola eliminasi : konstipasi atau diare b.d perubahan intake dan perubahan dalam digestif efek samping obat.
2.6. Risiko tinggi infeksi b.d pertahanan sekunder yang tidak adekuat seperti penurunan Hb, leucopeni.
3. Perencanaan
3.1. Hypoxemia b.d kekurangan oksigen dalam sel darah merah.
Hasil yang diharapkan :
• Oksigen dalam sel darah merah terpenuhi.
• Tidak terjadi cyanosis.
Rencana Tindakan :
• Berikan posisi semifowler.
R/ Meningkatkan ekspansi paru.
• Monitor dan catat tanda hypoxemia seperti kelemahan, kelelahan, dam confusi.
R/ Mengetahui lebih dini tanda hypoxemia dan menolong memberi intervensi selanjutnya.
• Kaji konjungtiva dan tanda-tanda cyanosis.
R/ Untuk mengetahui tanda-tanda kekurangan oksigen.
• Kaji pernapasan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas.
R/ Kemungkinan timbulnya dispnea dan tachipnea.
• Berikan oksigen sesuai program medik.
R/ Meningkatkan suplai oksigen karena hipoksia.
• Monitor AGD.
R/ Penurunan pH dan tanda hipoksemia.
• Monitor Hb.
R/ Menentukan kapasitas anemia.
• Ajarkan teknik relaksasi dan napas efektif.
R/ Mengurangi dispnea.
3.2. Kekurangan nutrisi b.d anoreksia tidak nafsu makan.
Hasil yang diharapkan :
• Pasien mampu menghabiskan makanan 1 porsi.
• Tidak terjadi penurunan berat badan.
• Tidak terjadi dehidrasi.
Rencana Tindakan :
• Jaga higiene mulut sesudah dan sebelum makan.
R/ Memberi rasa nyaman dan meningkatkan nafsu makan.
• Observasi kelainan di lidah, mulut dan oesofagus.
R/ Stomatitis dan glositis dan kemungkinan terjadi anemia.
• Beri diit lunak pada kelainan mulut.
R/ Untuk mencegah iritasi lebih lanjut.
• Beri vitamin dan mineral sesuai pesan dokter.
R/ Untuk meningkatkan absorbsi dan metabolisme.
• Ajarkan pasien tentang diet dan hubungan diet dan hubungan dengan penyakitnya.
R/ Meningkatkan kooperatif pasien untuk menaati diet.
• Catat porsi makan yang dihabiskan.
R/ Memberi masukan dan jumlah kalori.
• Timbang berat badan tiap hari.
R/ Perubahan berat badan membantu perubahan nutrisi.
3.3. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d hypoxemia jaringan, bedrest, imobilisasi.
Hasil yang diharapkan :
• Kerusakan integritas kulit tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
• Kaji kulit pasien terhadap adanya kemerahan dan indurasi.
R/ Penekanan pada daerah tertentu akan menghambat sirkulasi dan hypoxemia jaringan.
• Kaji kebersihan kulit.
R/ Mencegah infeksi.
• Berikan posisi selang seling tiap 2 jam.
R/ Memperlancar sirkulasi darah dan mencegah penekanan.
• Ajarkan latihan ROM
R/ Merangsang sirkulasi.
3.4. Ketidakmampuan merawat diri b.d kelemahan, kelelahan karena penurunan oksigen di dalam darah.
Hasil yang diharapkan :
• Pasien dapat memenuhi kebutuhan nutrisi.
• Kelelahan, kelemahan tidak terjadi lagi.
Rencana Tindakan :
• Kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas harian tanpa ada keluhan, kelemahan, fatigue, kesulitan beraktifitas.
R/ Intervensi selanjutnya.
• Dekatkan kebutuhan pasien seperti air, tissue, bel.
R/ Mengurangi kebutuhan pasien sesuai tingkat kemampuan pasien.
• Anjurkan pasien untuk mobilisasi secara bertahap.
R/ Membantu mempercepat pasien kooperatif.
• Ubah posisi pasien secara bertahap dan monitor dizziness.
R/ Indikasi dari hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan nausea/muntah, resiko perlukaan.
3.5. Perubahan pola eliminasi : konstipasi/diare b.d penurunan intake, perubahan dalam digestif efek samping obat.
Hasil yang diharapkan :
• Pola eliminasi normal.
• Konstipasi tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
• Observasi feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah.
R/ Mengidentifikasi penyebab atau faktor yang menunjang intervensi selanjutnya.
• Auskultasi bising usus.
R/ Bising usus meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi.
• Monitor dan laporkan intake output per oral.
R/ Dapat menunjukkan dehidrasi, kehilangan cairan berlebihan atau tambahan dalam mengidentifikasi defisiensi.
• Konsultasi dengan ahli diet untuk pemberian diet seimbang tinggi serat.
R/ Makanan tinggi serat mempertahankan enzim pencernaan dan penyerapan cairan.
3.6. Resiko tinggi b.d pertahanan sekunder yang tidak adekuat seperti Hb, leukopeni.
Hasil yang diharapkan :
• Infeksi tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
• Kembangkan cara mencuci tangan yang benar dalam memberikan perawatan kepada pasien.
R/ Mencegah infeksi silang.
• Pertahankan tehnik aseptik sesuai dengan prosedur atau pengobatan luka.
R/ Mengurangi resiko infeksi bakterial.
• Berikan perawatan kulit, mulut dan perianal secara teliti dan cermat.
R/ Mengurangi resiko kerusakan integritas kulit atau jaringan dan infeksi.
• Monitor temperatur atau suhu, catat bila ada kedinginan, takikardia.
R/ Akibat dari infeksi yang membutuhkan tindakan.
4. Perencanaan Pulang
Perencanaan pulang pada pasien yang anemia adalah :
4.1. Pemeliharaan nutrisi yang adekuat yaitu mengkonsumsi makanan bergizi seperti mengandung asam folat dan vitamin B12 contoh : sayur-sayuran berwarna hijau; bayam, tempe, hati, ginjal, atau suplemen tambahan dan lain sebagainya.
4.2. Istirahat dan toleransi terhadap aktivitas.
4.3. Mencegah adanya komplikasi dengan segera minta bantuan kesehatan terdekat.
C. PATOFLOWDIAGRAM
Konsentrasi Hb terganggu
BAB III
PENGAMATAN KASUS
Pasien bernama Ny. V berusia 19 tahun, beragama Islam, masuk RS Sint. Carolus pada tanggal 9 Januari 2004 dengan diagnosa medik Anemia + GE, pasien masuk melalui UGD.
Alasan pasien masuk rumah sakit dan mencari perawatan adalah diare, mual, muntah, panas dingin, pusing dan berkunang-kunang lalu penglihatan gelap lalu pasien memeriksakan diri ke UGD dan dianjurkan untuk dirawat oleh dr.Eddy.
Keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, observasi tanda-tanda vital : TD : 100/70 mmHg, N : 76 x/menit, HR : 80 x/menit, Suhu: 36 oC. pernapasan : 22 x/menit. Pasien mengatakan sudah tidak diare, mual ada, pusing dan berkunang-kunang ada kadang-kadang dan berkeringat. TB: 162 cm, BB: 45 kg, IMT : 17,2. Kesimpulan berat badan berkurang. Pasien mengatakan bila duduk dan langsung berdiri kepala pusing, kunang-kunang dan gelap. Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit anemia.
Dalam hasil pemeriksaan diagnostik pada tanggal 9 Januari 2004: Hb: 8,9 g/dl (12,0-18,0 g/dl), Ht: 28% (37-52%), leukosit : 7200 /ul (4.800 – 10.800 /ul), trombosit : 420.000 /ul (150.000-450.000 /ul). Tanggal 10 Januari 2004 : Si: 7,9 ug/dl (38-148 ug/dl), T, BC: 286 ug/dl (248-419 ug/dl), retikulosit : 8% (5-12%), membran darah tepi: kesan GDT sesuai dengan anemia mikrositik.
Terapi yang digunakan adalah New Diatab 3x2 tab, imodium 1x1 tab, Danaflox 3x200 mg, Wiacid 2x1, dan Sotatic 2x1 amp. Diit yang diberikan diit lunak. Dari hasil pengamatan terdapat 3 masalah yaitu : perubahan nutrisi, resiko tinggi hipoxemia dan ketidakefektifan regimen terapeutik. Perencanaan dan pelaksanaan adalah pemberian terapi medik sesuai dosis, memberi penyuluhan untuk informasi pasien. Evaluasi yang didapat dari pelaksanaan yang dilakukan ialah pengetahuan pasien bertambah, dan kebutuhan nutrisi masih belum teratas sebelumnya.
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS
Berdasarkan studi kepustakaan dari berbagai literatur dan dilakukan pengamatan langsung terhadap pasien Ny. V dengan anemia, penulis mencoba membandingkan antara teori dengan kasus yang ada.
1. Pengkajian
Sampai dengan akhir pengamatan penulis menyimpulkan bahwa anemia yang diderita Ny. V disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi seperti sayuran hijau dan riwayat gastritis yang dideritanya, pasien suka makanan yang pedas, dan jarang makan hati.
Berdasarkan hasil laboratorium terdapat penurunan sel darah merah : Hb: 8,9 g/dl (12-18 g/dl), Ht: 28% (37-52%), membran darah tepi.
Kesan : GDT sesuai dengan anemia mikrositik.
Pada tanda dan gejala tidak ditemukan dispnea, kelelahan, mual, pusing, mata berkunang-kunang mulai berkurang.
2. Diagnosa Keperawatan
Masalah yang ditemukan pada pasien yaitu :
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual.
b. Resiko hipoxemia b.d kekurangan oksigen dalam sel darah merah.
Sedangkan diagnosa yang tidak terjadi yaitu :
a. Ketidakmampuan merawat diri b.d kelemahan dan kelelahan karena penurunan oksigen dalam darha.
Tidak terjadi karena pasien sudah dapat memenuhi kebutuhannya dan bila lelah pasien istirahat di tempat tidur.
b. Perubahan pola eliminasi : konstipasi atau diare b.d perubahan intake dan perubahan dalam digestif efek samping obat.
Tidak terjadi karena pasien sudah mendapat therapi New Diatab 3x2 tab, Imodium 1x1 tablet. Sehingga pada saat pengkajian perubahan eliminasi : diare sudah tidak terjadi.
c. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d hypoxemia jaringan, bed rest, imobilisasi.
Tidak terjadi karena pasien sudah mobilisasi mandiri.
d. Resiko tinggi infeksi b.d pertahanan sekunder yang tidak adekuat seperti penurunan Hb, leukopeni.
Tidak ditemukan karena pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan Hb dan Ht sementara leukosit dan trombosit dalam nilai normal.
Sedangkan ada diagnosa yang diangkat penulis tapi tidak ada dalam literatur yaitu ketidakefektifan regimen terapeutik b.d informasi tentang pengobatan, tanda gejala, penyebab penyakit.
3. Perencanaan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada Ny. V dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan. Intervensi dapat dilakukan dan tidak menemukan hambatan yang berarti karena tersedianya fasilitas dan kerja sama yang baik antara perawat dengan pasien. Dalam pelaksanaan diutamakan penyuluhan kembali tentang penyakitnya dan penyebabnya agar tidak terulang lagi.
4. Evaluasi
Setelah dilakukan pelaksanaan, evaluasi semua belum dapat tercapai karena keterbatasan waktu dalam pelaksanaan dan pelaksanaannya dibutuhkan ketaatan terhadap diit untuk mengurangi terjadinya penyakit yang sama dan tidak terjadi komplikasinya.
BAB V
KESIMPULAN
Setelah mempelajari, membahas serta melihat pada kasus anemia yang dialami pada Ny. V, penulis mencoba untuk menarik kesimpulan bahwa penyebab anemia Ny. V karena faktor makanan yang kurang mengandung zat besi dan riwayat gastritis. Dari hasil pemeriksaan diagnostik terdapat penurunan Hb : 8,9 g/dl (12-18 g/dl), Ht: 28% (37-52%), Albumin : 3,1 g/dl (3,5-5,0 g/dl), Globulin : 4,4 g/dl (1,5-3,5 g/dl).
Pada kasus ditemukan 3 masalah yaitu : perubahan nutrisi, resiko hypoxemia dan ketidakefektifan regimen terapeutik. Setelah dilakukan pelaksanaan selama 1hari, sebagian dapat dilaksanakan dengan baik, tetapi evaluasi semua tidak dapat tercapai karena keterbatasan waktu pelaksanaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Catherine Parker (1976). Structure of Function of the Body. (Fifth edition). USA. CV. Mosby Company.
Brunner and Suddarth’s (2000). Text book of Medical Surgical Nursing. (Ninth edition). USA. Lippincott Williams and Wilkins.
Doengoes, M.E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. (Edisi ketiga). Jakarta: EGC.
Lewis, S.M. et.al (2000). Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of Clinical Problems. (Fifth edition). USA. Mosby inc.
Mansjoer, A. et. al (1999). Kapita Selekta Kedokteran. (Edisi ketiga). Jakarta. Media Aesculapius.
Langganan:
Postingan (Atom)